Membangun Desa Lewat Gandasari Mendidik

Kegiatan belajar Gandasari Mendidik tengah berlangsung, Minggu (22/4/2018). (Foto: Andi Saddam/GoBekasi)

Kegiatan belajar Gandasari Mendidik tengah berlangsung, Minggu (22/4/2018). (Foto: Andi Saddam/GoBekasi)

TERGERAK ingin membangun desa lewat peningkatan kualitas sumber daya manusia, seorang pemuda berusia 28 tahun bernama Syarif Hidayat bersama temannya mendirikan Gandasari Mendidik atau juga disebut Kelas Pelangi.

Sabo, panggilan akrabnya, memulai itu sejak September 2017 di Kampung Cibuntu Bojong, Desa Gandasari, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Ia menargetkan anak-anak berusia 5 sampai 12 tahun.

Ada 3 hal yang ingin ia tingkatkan dari para generasi penerus desa yang berada dekat dengan kawasan industri itu: akhlak, matematika dan kemampuan berbahasa Inggris.

“Saya tergerak karena banyak anak-anak kecil butuh pendidikan lebih dari sekolah formal. Saya hanya menjalankan dan mengoordinasikan anak-anak muda. Mungkin dengan cara ini kita bisa tingkatkan SDM yang lebih baik di masa yang akan datang,” jelas Sabo yang berprofesi sebagai sekuriti, Minggu (22/4/2018).

Gandasari Mendidik 2

Pemuda Desa Gandasari.

Gandsari Mendidik belum mempunyai tempat belajar sendiri, para pengurus masih menumpang di ruang serbaguna Desa Gandasari. Jadwal belajar setiap Sabtu sore dan Minggu pagi. Ada 3 tenaga pengajar sukarela dari masing-masing mata pelajaran.

“Bahasa Inggris dibutuhkan di persaingan global, jadi nanti anak-anak di desa ini bisa bahasa Inggris kan bagus,” ujarnya.

“Sejauh ini kendala yang saya alami di masyarakat adalah alat penunjang pendidikan seperti meja dan alat sulit, ruangan. Dasar-dasar masih kurang, juga buku bacaan,” sambungnya.

Menurutnya, dukungan pemerintah desa setempat dan di atasnya masih minim dan terkesan kurang diperhatikan. Operasional Gandasari Mendidik berasal dari swadaya pengurus.

“Harapan ke depan, saya ingin membuka rumah baca dan lebih intensif di program bahasa Inggris,” ujarnya.

Gandasari Mendidik 3

Syarif Hidayat (Sabo)

Salah seorang relawan pengajar bahasa Inggris, Mega Okta, mengatakan, sejak pertama kali mengajar pada September 2017, menurutnya ada progresi dalam pembelajaran.

“Alhamdulillah ada kemajuan cara membaca, awal ngajar baca a-i-u-e-o masih belum jelas, masih kaku. Makin ke sini makin bisa,” kata wanita asal Wanasari ini.

Mega mengakui, jumlah murid menurun. Beberapa bulan sejak awal pendirian, setiap jadwal belajar, bisa sampai 70 orang. Sekarang menyusut hingga 30 sampai 40 orang.

“Itu memang seleksi alam, walaupun sedikit, tapi mereka semangat datang ke sini,” singkatnya.

Pengurus lain yang juga warga setempat Ahyanto menuturkan, Gandasari Mendidik cukup berkembang dan mendapat tanggapan positif warga desa.

“Kita fokus ke arah akhlak baru ke arah pendidikan. Kita tanamkan akhlak misalkan sopan santun. Alhamdulillah dampak yang kita terima dari tetangga bagus, dari sisi ilmu matematika dan bahasa Inggris mereka (pelajar) bisa mengikuti,” katanya.

Ketua Karang Taruna Dusun I Gandasari Napih, berharap Gandasari Mendidik dapat menjadi cerminan untuk desa-desa lain.

“Semoga ke depan bisa lebih maju dan di-support pemerintah dengan fasilitas memadai dan lebih baik,” jelasnya.

 



loading...

Feeds

Ilutrasi Raperda

DPRD Kota Bekasi Sahkan 6 Perda

DPRD Kota Bekasi resmi mengesahkan rancangan peraturan daerah (Raperda) menjadi peraturan daerah (perda) dalam rapat paripurna di gedung DPRD Kota …
Belanja di Online Shop Rawan Pelanggaran

48 Mitra Jasa Marga Dapat Dana Pinjaman

SEBANYAK 48 mitra binaan Jasa Marga cabang Jakarta-Cikampek mendapat dana pinjaman hingga Rp750 juta. Dana itu diberikan sebagai penguat usaha …