6 Pembakar Zoya Terancam Hukuman Belasan Tahun

JPU membacakan tuntutan terhadap 6 terdakswa kasus pembakaran Muhammad Al Zahra alias Zoya di PN Bekasi, Selasa (3//2018). Foto: Istimewa/Gobekasi

JPU membacakan tuntutan terhadap 6 terdakswa kasus pembakaran Muhammad Al Zahra alias Zoya di PN Bekasi, Selasa (3//2018). Foto: Istimewa/Gobekasi

SEBANYAK enam terdakwa kasus pembakaran Muhammad Al Zahra alias Zoya (30), pencuri amplifier di salah satu Musala Kampung Muara Bakti RT 12/07, Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan, pada 1 Agustus 2017 silam, terancam hukuman belasan tahun.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut berbeda terhadap enam terdakwa pembakar Zoya. Putusan tuntutan itu diambil berdasarkan hasil analisa persidangan yang menimpulkan para terdakwa telah melakukan kekerasan terhadap Zoya hingga meninggal dunia.

Adapun tuntutan terhadap keenam terdakwa di antaranya Karta alias Sabra 10 tahun, Ali Alvian alias Bin Saryono, Zulkafli Alkausari alias Marzuki, Najibullah, dan Subur alias Jek dituntur 11 tahun. Sementara, Rosadi mendapat tuntutan terberat 12 tahun.

Kasubsi Penuntutan JPU, Muhamad Ibnu Fajar, menjelaskan tuntutan maksimal terhadap Rosadi sekaligus pelaku utama pembakaran karena memberikan keterangan berbelit. Terlebih, dalam keterangannya Rosadi memberikan keteranhan yang berbeda dengan fakta persidangan.

“Ada perbedaan keterangan sehingga dituntut maksimal. Sementara, terdakwa lainnya berterus terang,” ujar Ibnu usai pembacaan tuntutan di PN Bekasi, Selasa (3/4/2018) kemarin.

Tuntutan juga berdasarkan adanya kehadiran saksi dan barang bukti. Berupa batu kali, kayu, bensin, uang kertas Rp5 ribu, dan satu buah baju milik korban.

Semua terdakwa membuktikan memiliki unsur terang-terangan, bersama-sama, dan kekerasan untuk saling mengerti pada saat kejadian.

Tingginya tuntutan terhadap terdakwa juga disebabkan karena tak beritikad baik untuk meminta maaf terhadap keluarga Zoya.

Di sisi lain, pihaknya sedikit kecewa lantaran kepolisian belum menangkap dua pelaku lainnya yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO). Yakni Riko dengan peran membeli bensin dan Marjaya berperan memukul kepala korban dengan benda tumpul.

“Laporan yang kami terima polisi sudah mengejar sampai Banten,” kata dia.

Kuasa Hukum Zoya, Abdul Chalim mengaku puas terhadap tuntutan maksimal yang diputuskan JPU. Namun demikian, pihaknya kecewa lantaran para terdakwa tak melayangkan permintaan maaf terhadap keluarga korban.

“Jadi tidak adanya permintaan maaf tersebut yang semakin memberatkan tuntutan terhadap terdakwa,” kata dia.

Dia menambahkan, hasil tuntutan ini tidak serta-merta dapat membuat keluarga korban tenang. Pasalnya, tingginya tuntutan terhadap terdakwa tetap tidak bisa mengembalikan Zoya yang notabene berperan sebagai tulang punggung keluarga.

Sementara itu Kuasa Hukum terdakwa Rosadi, Robinson Samosir mengaku kecewa. Sebab, tuntutan itu tak sesuai fakta persidangan. Pasalnya, kata dia, jaksa terlalu prematur menyimpulkan Rosadi melakukan penendangan dan pemukulan. Sementara, dari BAP terbatas dengan pengakuan saksi dan fakta yang ada.

“Apa yang di persidangan malah JPU membuat BAP itu sah,” kata dia.

Menurutnya, pelaku yang menyebabkan kematian adalah Marjaya yang memukul menggunakan benda tumpul. Alat bukti itu yang seharusnya menjadi pedoman bagi jaksa untuk tidak menuntut maksimal terhadap kliennya.

“Saya sangat kecewa mereka dibdakwa melakukan perbuatan hingga menyebabkan kematian. Padahal mereka hanya melakukan penganiayaan,” sesal dia. (kub/gob)



loading...

Feeds

Ilutrasi Raperda

DPRD Kota Bekasi Sahkan 6 Perda

DPRD Kota Bekasi resmi mengesahkan rancangan peraturan daerah (Raperda) menjadi peraturan daerah (perda) dalam rapat paripurna di gedung DPRD Kota …
Belanja di Online Shop Rawan Pelanggaran

48 Mitra Jasa Marga Dapat Dana Pinjaman

SEBANYAK 48 mitra binaan Jasa Marga cabang Jakarta-Cikampek mendapat dana pinjaman hingga Rp750 juta. Dana itu diberikan sebagai penguat usaha …