Dedy Mulyadi Tawarkan Solusi Ini untuk Kesejahteraan Buruh Tani

Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedy Mulyadi tengah berbincang dengan masyarakat Desa Karangreja, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Rabu (7/3/2018). (Foto: Andi Saddam/GoBekasi)

Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedy Mulyadi tengah berbincang dengan masyarakat Desa Karangreja, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Rabu (7/3/2018). (Foto: Andi Saddam/GoBekasi)

CALON wakil gubernur Jawa Barat nomor urut 4 Dedy Mulyadi mengunjungi sejumlah desa di Kecamatan Pebayuran, Rabu (7/3/2018) siang. Ia menjumpai masyarakat tiap desa untuk menyapa dan melihat kondisi riil.

Dedy mengungkapkan sejumlah solusi untuk menyelesaikan masalah kemiskinan buruh tani yang menjadi mata pencaharian dominan di kecamatan Pebayuran.

Pertama, buruh tani diasuransikan sebagai pekerja informal. Andai seorang buruh tani terluka saat bertani, maka biaya pengobatannya ditanggung pihak pemberi asuransi.

“Kedua, padi diasuransikan. Kalau musim panen gagal, rakyat tidak kehilangan nilai uang. Diganti asuransi,” ucapnya.

Ketiga, rumah para buruh tani harus diperbaiki. Sementara keempat, katanya, sekolah dibuat dekat dengan masyarakat dan terakhir diberi jaminan kesehatan lewat program 1 desa 1 dokter.

“Kalau ini sudah dilakukan, rakyat Jawa Barat untuk makan itu mampu. Yang tidak mampu itu bangun rumah, berobat ke rumah sakit dan sekolahin anak,” imbuh ketua DPD Golkar Jawa Barat itu.

“Kalau berobat, sekolah, perbaikan rumah diambil pemerintah. Rakyat makan tiap hari sama telor saya berani tarohan, karena Rp25 ribu bisa makan sama telor,” sambung Dedy.

Terkait permasalahan harga dan stok beras, ia menawarkan 2 solusi. Pertama, pemerintah memberikan subsidi beras premium gratis untuk warga miskin dan kedua pemerintah harus mensubsidikan cadangan beras di tiap desa.

“Kalau desa ini hasilkan panen berapa ribu ton, harus dihitung dulu orang sini makannya berapa ton?” kata Dedy.

Jadi, menurutnya, perhitungan kebutuhan desa dalam tonase disisakan sebagai stok tiap desa untuk memenuhi kebutuhan pangan.

“Sekarang ini aneh. Ngasilin padi tapi enggak punya gabah. Gabahnya pergi semua diangkut, digiling, dibawa ke pasar induk. Abis pasar induk, balik lagi sini dibeli petani dalam keadaan mahal,” tutup Dedy. (dam/gob)



loading...

Feeds

Ilutrasi Raperda

DPRD Kota Bekasi Sahkan 6 Perda

DPRD Kota Bekasi resmi mengesahkan rancangan peraturan daerah (Raperda) menjadi peraturan daerah (perda) dalam rapat paripurna di gedung DPRD Kota …
Belanja di Online Shop Rawan Pelanggaran

48 Mitra Jasa Marga Dapat Dana Pinjaman

SEBANYAK 48 mitra binaan Jasa Marga cabang Jakarta-Cikampek mendapat dana pinjaman hingga Rp750 juta. Dana itu diberikan sebagai penguat usaha …