Imlek dan Hujan

(Ilustrasi) Perayaan Imlek 2566/2015 Klenteng Tek Seng Bio, Karangasih, Cikarang Utara, Kamis (19/2/2015) FOTO: Andi Saddam/GoBekasi

(Ilustrasi) Perayaan Imlek 2566/2015 Klenteng Tek Seng Bio, Karangasih, Cikarang Utara, Kamis (19/2/2015) FOTO: Andi Saddam/GoBekasi

HARI Raya Imlek akan diperingati pada esok hari Jumat (16/2) dan seringkali identik dengan hujan. Menariknya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengungkapkan alasan hujan yang selalu terjadi pada saat Imlek.

Berdasarkan catatan sejarah, Imlek adalah awal musim semi yang dirayakan oleh leluhur orang Tionghoa di Tiongkok. Setelah berbulan-bulan diselimuti musim dingin dan tak bisa bercocok tanam, maka mereka bahagia setelah musim semi tiba.

Bagi orang Tionghoa, turunnya hujan pada Tahun Baru Imlek dapat dimaknai sebagai berkah bagi masyarakat Tionghoa.

“Kalau Jakarta ya hujan, intensitasnya sedang hingga lebat. Iya akan bertahan (sampai hari Imlek),” ujar Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG, Harry Tirto Djatmiko saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (15/2/2018).

Harry menjelaskan, Imlek tidak selalu jatuh pada bulan Februari yang memang puncak dari musim penghujan di Jakarta. Bahkan ada kemungkinan Imlek tidak hujan, ketika waktunya bergeser ke bulan Juni atau Juli.

Dikarenakan beberapa tahun ini menginjak pada Februari dan Maret, maka Jakarta wajar terguyur hujan.

“Karena Imlek itu sedang berada dalam di bulan puncak musim hujan untuk belahan bumi bagian selatan wilayah Indonesia karena Imlek selalu rata-rata di bulan Februari beberapa waktu belakangan,” kata Harry.

Tetapi, lanjut Harry, musim penghujan di wilayah lain belum tentu sama. Ada kondisi geografis yang membuat beberapa wilayah memiliki waktu puncak curah hujan.

“Iya (Februari) salah satu bulan musim penghujan, kalau di daerah-daerah lain ada waktu musim penghujannya. Makanya berbeda-beda tiap wilayah, ini giliran Jakarta,” pungkasnya.

(ce1/rgm/jpc/gob)



loading...

Feeds