Pepen Silaturahmi ke Sesepuh Adat Kranggan

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi saat ke Kranggan. (Foto: Ist)

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi saat ke Kranggan. (Foto: Ist)

WALI Kota Bekasi Rahmat Effendi bersilahturahmi dengan warga Penghayat Terhadap Tuhan YME serta Sesepuh Adat Kranggan yang diselenggarakan oleh BKMKB Kademangan Jatisampurna dan Paguyuban Nempo Temen di Rumah Panggung Aki Tjamin Kranggan Wetan RT 003 RW 10, Jumat (2/2/2018).

Perwakilan Penghayat Terhadap Tuhan YME Aliran Kebatinan Perjalanan Arsad Sutarya menyampaikan Aliran Kebatinan Perjalanan mempunyai 3 tempat pertemuan atau pasewakan yaitu di Gang Ilih Jatisampurna, Jalan Fathul Iman Jatiasih dan di Dekat Kelurahan Mustikasari Kecamatan Mustika Jaya.

“Dan secara nasional kita difasilitasi oleh Direktortat Jenderal Budaya di Sasana Adhirasa TMII. Setiap Selasa Kliwon seluruh penghayat yang ada di Indonesia mengadakan pertemuan,” ujarnya

“Kita setiap tahun di Tahun Baru Saka kita selalu mengadakan Suraan di setiap Pasewakan dan diharapkan Bapak Wali Kota Bisa hadir di acara tersebut,” imbuhnya.

Pinisepuh Masyarakat Kranggan Anim Imanudin yang juga merupakan Anggota DPRD Kota Bekasi, menyampaikan, ia ingin di Kranggan dibuat kampung kebudayaan.

“Di sinilah letak budayaan, bagaimana yang namanya sedekah bumi menggambarkan seluruh apa sesaji itu dari dari mulai cau raja, cau emas, duwekannya seperti apa dan lain sebagainya, ini mempunyai makna yang luar biasa, bagaimana maknanya kita berbicara dengan alam dan Tuhan YME,” ujarnya.

“Kemarin juga saat menjadi salah satu anggota pansus yaitu Rencana Detail Tata Ruang Kota Bekasi, saya buat di Kranggan ini sebagai titik koordinat kebudayaan, dan di rumah saja sudah menjadi keputusan Wali Kota menjadi rumah budaya, terima kasih kepada Pak Wali yang telah menghargai kebudayaan khususnya di Kranggan,” sambungnya.

Sementara Wali Kota Bekasi dalam sambutannya menyampaikan kalau kita menjadi pemimpin tidak boleh diskriminatif, jadi kalau memimpin itu harus berdiri disemua kaki umat dan golongan,

“Kalau memimpin hanya untuk golongannya saja jangan jadi jadi pemimpin karena masih ada umat lain, suku lain, keyakinan lain dan keyakinan itu disahkan menurut peraturan perundang-undangan, itu namanya negara dan penyelenggara negara harus taat terhadap aturan supaya rakyatnya yang diikat rakyatnya itu juga harus taat aturan,” ujarnya

“Apalagi Penghayat sekarang menurut Keputusan Mahkamah Konstitusi resmi Kepercayaan itu, karena ia resmi dan hukum positif negara menyatakan itu,” sambung Pepen.

Menurutnya, pemerintah harus memperhatikan ini dan menempatkan pada posisi yang besar dan yang kecil pun juga tidak pada posisi mendiskriminasi satu dengan yang lain.

“Pengahayat juga membutuhkan tempat, kalau persoalan ibadahnya saya tidak masuk pada ranah itu, tetapi untuk diskusi, sama seperti muslim yang datang ke masjid melakukan ibadah, berdiskusi tentang islam yang rammatan lil alamin, Islam yang sejuk, Islam yang bertoleran,” ungkapnya.

“Maka berikan tempat dan bangun sehingga tidak berpencar ke sana ke sini, jadi betul-betul ada perhatian dari pemerintah apalagi sekarang sudah resmi,” tutup Pepen. (adv/hms)



loading...

Feeds