Saat Seni dan Budaya Bekasi Berdaya di Tanah Sendiri

Duel Palang Pintu, usai perhelatan upacara HUT RI di Gedung Juang '45 Tambun Selatan, Minggu (17/8). FOTO: Andi Saddam/GoBekasi

Duel Palang Pintu, usai perhelatan upacara HUT RI di Gedung Juang '45 Tambun Selatan, Minggu (17/8). FOTO: Andi Saddam/GoBekasi

GEDUNG JUANG tampak telah menjadi simbol bahwa kebudayaan dan sejarah Bekasi harus dirawat, dijaga serta dilestarikan. Namun, semua itu perlu diupayakan.

Anggota DPR RI sekaligus pegiat budaya Daeng Muhammad berpendapat agar Pemerintah Kabupaten Bekasi dapat memanfaatkan keuntungan dari kehadiran 9 kawasan industri dengan jumlah pabrik sekitar 4.000-an.

“Kita punya seniman, bagaimana kita.bisa mengatur keuntungan kawasan industri pabrik bermanfaat juga buat budayawan dan seniman kita,” ucapnya beberapa waktu lalu.

Menurutnya cagar budaya berupa bangunan seperti Gedung Juang juga perlu dihargai walaupun menurutnya itu peninggalan kolonial, sama halnya dengan Rumah Tuan Tanah di Pebayuran.

Tampak gedung bagian tengah dari Rumah Tuan Tanah Pebayuran. Bagian tersebut masih merupakan bentuk asli seperti saat dibangun pada 1760. Terdapat nama kedua tokoh yang dipilih menjadi nama Balai Kemitraan Polisi dan Masyarakat. Muhammad Yasin merupakan ayah dari Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin yang merupakan tokoh Pebayuran dan Susgarwanto adalah mantan Kapolsek Pebayuran berpangkat Ajun Komisaris Polisi. (Foto: Andi Saddam Husein/GoBekasi.co.id)

Tampak gedung bagian tengah dari Rumah Tuan Tanah Pebayuran. Bagian tersebut masih merupakan bentuk asli seperti saat dibangun pada 1760. Terdapat nama kedua tokoh yang dipilih menjadi nama Balai Kemitraan Polisi dan Masyarakat. Muhammad Yasin merupakan ayah dari Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin yang merupakan tokoh Pebayuran dan Susgarwanto adalah mantan Kapolsek Pebayuran berpangkat Ajun Komisaris Polisi. (Foto: Andi Saddam Husein/GoBekasi.co.id)

“Yang kita inginkan bagaimana kebijakan pemerintah ke depan adalah membangun museum, membangun tempat budaya sehingga seniman mampu bisa tampil di situ. Kan negara punya hak paksa. Pemerintah ketika mengeluarkan izin industri juga harus melibatkan kepentingan lokal,” jelas Daeng.

Saat kebudayaan Bekasi maju dan terwadahi, lanjut Daeng, wisatawan asing tak perlu ke Yogyakarta atau Bandung untuk melihat pertunjukan kesenian.

“Enggak perlu ke mana-mana untuk menyaksikan seni dan lain-lain. Kenapa tidak ditampilkan seniman kita dan dimodifikasi. Kita undang asing-asing ke kawasan kita, bisa melihat itu. Itu yang saya pinta,” tutupnya. (dam/gob)



loading...

Feeds

Ilutrasi Raperda

DPRD Kota Bekasi Sahkan 6 Perda

DPRD Kota Bekasi resmi mengesahkan rancangan peraturan daerah (Raperda) menjadi peraturan daerah (perda) dalam rapat paripurna di gedung DPRD Kota …
Belanja di Online Shop Rawan Pelanggaran

48 Mitra Jasa Marga Dapat Dana Pinjaman

SEBANYAK 48 mitra binaan Jasa Marga cabang Jakarta-Cikampek mendapat dana pinjaman hingga Rp750 juta. Dana itu diberikan sebagai penguat usaha …