Medansatria Akan Bangun Tandon Seluas 3 Hektare

ILLUSTRASI - Waduk di wilayah Rawalumbu ini sudah lama tidak berfungsi, warga khawatir jika curah hujan tinggi maka daerah sekitar akan terendam banjir, Selasa (20/9/2016). FOTO: Dokumentasi /GoBekasi

ILLUSTRASI - Waduk di wilayah Rawalumbu ini sudah lama tidak berfungsi, warga khawatir jika curah hujan tinggi maka daerah sekitar akan terendam banjir, Selasa (20/9/2016). FOTO: Dokumentasi /GoBekasi

CAMAT Medansatria, Taufik Rahmat mengatakan, persoalan banjir yang kerap terjadi di wilayahnya akan segera tertangani, dengan pembuatan tandon seluas 3 heaktar.

Pasalnya saat ini Persoalan banjir di Kecamatan Medansatria, terjadi di 3 kelurahan, diantaranya yang paling ekstrem adalah kelurahan Pejuang.

Bukan hanya itu lokasi lainnya seperti di Harapanmulya, yang masih terkendala sama persoalan banjir, akibat dari pembiaran pengurusan kanal yang berada di samping perumahan Summarecon Bekasi oleh warga.

“Harapan Mulya itu terdampak karena warga tidak mengurus kanal yang berada di sepanjang jalan samping perumahan Summarecon Bekasi, banyak yang membuag sampah kesitu. Kanal itu berujung ke Kali Baru. Sudah itu, diameter kanal pun kecil, sehingga air tersendat disitu juga,” katanya Minggu, (14/1/2018)

Selain itu, Di pejuang hampir seluruh wilayah yang ada di Harapan Indah, pokoknya itu hampir 6 RW terkendala banjir.

Banjir yang terjadi selama ini disebabkan karena tingginya posisi kali, dengan jalanan. Selain itu, aliran air dari hulu hingga ke hilir, yang berada di perbatasan Kota Bekasi dengan Kabupaten Bekasi tersendat.
Sementara, khusus di Kelurahan Medansatria, Taufik menjelaskan, tidak adanya saluran yang terintegrasi di sepanjang jalan Sultan Agung, mulai dari perbatasan Kota Bekasi-Jakarta Timur, hingga ke wilayah Bekasi Barat.

“Di Medan Satria itu bukan tidak adanya banjir, ada banjir karena terdampaknya tidak ada saluran yang terintegrasi, khusunya di Jalan Sultan Agung. Dulu memang posisinya itu Catchment area, yang posisinya rendah. Makanya sekarang dengan posisi kali itu dari hulu ke hilir, air mengalirnya deras, di hilirnya mampet, di kabupaten. Itu kan kalinya Kali Kapuk,” ungkapnya.

Upaya lain, dalam rangka menekan jumlah debit air yang masuk di pemukiman warga, Pemerintah Kota Bekasi pun sudah melakukan penurapan dan normalisasi di sepanjang kali kapuk. Namun upaya itu kata Taufik, belum sepenuhnya tuntas, meski aliran air dari Kali Kapuk sudah mulai lancar.

“Kemarin itu kan kita lakukan pembongkaran bangunan yang arah ke Kali Kapuk, Alhamdulillah kita sudah lakukan penurapan dan normalisasi, sampai wilayah kabupaten sudah lancar. Tetapi, di kabupatennya masih belum karena persoalan ini harus lintas wilayah,” ucapnya.

Selain banjir, Kecamatan Medan Satria, juga mengusulkan penataan infrastruktur, sebagai wilayah yang menjadi gerbang dari perbatasan Kota Bekasi-Jakarta Timur dan Utara ini.

“Kita ingin, sebagai wajah utama dari perbatasan Jakarta, begitu masuk ke Medan Satria, melihat penataan infrastruktur di Kota Bekasi itu bagus, mulai dari pedestrian, median jalan, saluran dan taman. Itu yang memang kita usulkan juga,” tandasnya. (dyt/gob)



loading...

Feeds

Serikat Pekerja Tolak Penghapusan UMSK

Serikat Pekerja Tolak Penghapusan UMSK

PERWAKILAN Serikat buruh dalam Dewan Pengupahan Kabupaten Bekasi menolak penghapusan Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK). Mereka meminta supaya pembahasan UMSK …