Curhatan Kuli Panggul di Terminal Bekasi

Dudung dan ayahnya Kumis, kuli panggul di Terminal Bekasi, Sabtu (6/1/2018). (Foto: Yurizkha Aditya/GoBekasi)

Dudung dan ayahnya Kumis, kuli panggul di Terminal Bekasi, Sabtu (6/1/2018). (Foto: Yurizkha Aditya/GoBekasi)

PULUHAN tahun mengadu nasib di Terminal Kota Bekasi, Kumis (65) dan anak Dudung (46) bergantung pada 3 jenis jasa yang mereka tawarkan.

Warga Setu, Kabupaten Bekasi itu, menawarkan jasa panggul barang dengan upah seikhlasnya, biasa Rp5.000 per karung ia kantongi usai mengangkut barang pedagang. Terkadang lebih.

Kemudian mereka menawarkan jasa pengiriman dan juga penitipan paket yang kurang-sama dengan yang mereka biasa panggul: karung berisi komoditas dagang dan lainnya, kadang sepeda motor.

Dudung menjelaskan, dalam sehari ia dapat melayani 30 barang dengan jenis yang beragam.

“Kalau sepeda dan motor biasanya dititipin buat diantar lagi ke daerah lain, tapi yang penting ada alamat jelas,” ujarnya, Sabtu (6/1/2018).

Bapak dan anak itu terjun ke pekerjaan yang kini digeluti karena kesulitan mencari pekerjaan. Namun mereka mengaku bersyukur karena masih dapat mendapat rezeki dari pekerjaan halal.

“Selagi ini pekerjaan halal dan tidak merugikan orang lain kenapa tidak? Saya juga bekerja dengan cara yang baik,” jelasnya.

Menurutnya, awal 2018 pengguna jasanya lebih sepi dari awal tahun sebelumnya. Seminggu belakangan, per hari paling bantar 3 paket.

Supaya makin gampang akses berita gobekasi.co.id, yuk install aplikasinya di sini

“Biasanya awal tahun itu rame, tapi awal tahun ini sepi banget enggak kaya tahun kemari. Hari ini saja hanya ada 3 paket yang belum diambil,” ucapnya. (dyt/gob)



loading...

Feeds

Serikat Pekerja Tolak Penghapusan UMSK

Serikat Pekerja Tolak Penghapusan UMSK

PERWAKILAN Serikat buruh dalam Dewan Pengupahan Kabupaten Bekasi menolak penghapusan Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK). Mereka meminta supaya pembahasan UMSK …