Jeritan Penjual Terompet Bekasi dan Wabah Difteri

Salah satu penjual terompet di Bekasi Utara, Minggu (31/12/2017). (Foto: Yurizkha Aditya/GoBekasi)

Salah satu penjual terompet di Bekasi Utara, Minggu (31/12/2017). (Foto: Yurizkha Aditya/GoBekasi)

SEJUMLAH penjual trompet musiman menjerit lantaran penyakit difteri yang tengah mewabah sehingga masyarakat segan membeli terompet yang disebut-sebut sebagai salah satu media penyebaran difteri.

Seorang pedagang terompet yang berjualan di Depan Prima Harapan Bekasi Utara, Panjul (32), mengatakan, tahun ini jualan sepi peminat.

Biasanya dia mampu menjual 5 sampai 10 terompet dalam sehari, saat ini ia hanya mampu menjual 1.

“Saya jualan dari tanggal 27 Desember sampe nanti malam tahun baru, tapi dari jualan tanggal segitu saya baru dapet Rp150 ribu, kalo dulu mah bisa mencapai Rp500 ribu,” ujarnya Minggu (31/12/2017).

Menjual dengan banyak varian bentuk trompet, Panjul menbandrol harga dari Rp5 ribu sampai Rp35 ribu. Namun lantaran daganganya sepi peminat dirinya akan membanting harga terompetnya dengan harga murah.

Supaya makin gampang akses berita gobekasi.co.id, yuk install aplikasinyadi sini

“Ini sih siasat ajah, kalo memang masih banyak yang belom laku terjual, paling saya akan jual dengan harga murah,” ucapnya.

Menurutnya, wabah penyakit difteri tersebut membuat sejumlah pedagang seperti dirinya gigit jari untuk jualan tahun ini.

“Penyakit difteri kan sekarang-sekarang ini booming, lah kalo terompet kan sudah dari dulu, masa cuma gara-gara niup terompet jadi kena difteri, berita ini jadi kita yang kena imbasnya, penjualan malah jadi sepi,” pungkasnya. (dyt/gob)



loading...

Feeds