Dinkes Kota Bekasi Minta Masyarakat Waspadai Penyakit Menular Ini

Foto: Ilustrasi/equator.co.id

Foto: Ilustrasi/equator.co.id

KEPALA Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Kusnanto Saidi, meminta agar masyarakat mewaspadai penyakit dari kuman mycobacterium tuberculosis (TB).

Meski jumlah penderita tuberculosis (TB) di Kota Bekasi mengalami penurunan, namun jumlah penyakit menular ini masih tinggi.

Pada tahun 2015 lalu jumlah penderita TB mencapai 12.831 orang, sedangkan tahun 2016 mencapai 11.960 orang.

Selain bisa mengakibatkan kematian, proses pengobatan terhadap penyakit ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama hingga setahun lebih.

“Harus ada kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat. Kalau tidak, pasien harus mengulangi pengobatan dari awal,” katanya. Sabtu (30/12/2017).

Kusnanto mengatakan, progres penyembuhan penderita penyakit TB mengalami progres yang cukup baik.

Di tahun 2015, penyembuhan pasien terhadap penyakit TB mencapai 74 persen dari target 85 persen.

Sedangkan pada 2016, penyembuhan penyakit TB sebanyak 84 persen dari terget penyembuhan 85 persen.

“Meski, suspect kasus TB cukup banyak namun progres penyembuhannya pun cukup baik,” ujarnya.

Menurut dia, tingginya progres penyembuhan penyakit TB karena petugas rutin mengingatkan pasien untuk selalu mengonsumsi obatnya.

Bahkan, petugas ada yang sampai ke rumah pasien hanya untuk mengecek mereka meminum obat.

“Kalau tidak patuh berobat, mereka sendiri yang rugi. Selain penyakit lebih lama sembuh, juga bisa menularkan ke keluarganya lewat udara maupun air liur,” jelasnya.

Untuk itu, Kusnanto meminta agar masyarakat mewaspadai penyakit ini.
Adapun penyebab penyakit ini karena merokok, pecandu narkoba, kekurangan gizi dan sebagainya.

“Gejalanya, batuk berkepanjangan hingga mengeluarkan darah,” katanya.

Kepala Bidang Pelayanan RSUD Kota Bekasi, Sudirman menambahkan, kebutuhan rumah sakit khusus paru merupakan hal yang mendesak.

Sebab, sampai saat ini, ada 100 pasien yang menjalani perawatan rutin di poliklinik paru setempat.

“Ada 20 pasien di antaranya terpaksa masuk daftar pasien rawat inap karena penyakitnya cukup parah,” kata Sudirman.

Sudirman menjelaskan, penderita penyakit paru harus segera mendapatkan pertolongan.

Bila tidak, penyakit yang menyerang alat pernafasan manusia tersebut akan bertambah parah. Bahkan, ruang isolasi bagi pasien khusus penderita paru harus dibedakan dengan pasien lain.

“Penderita penyakit paru harus steril, sebab penularannya amat cepat melalui udara,” ujarnya.

Kepala Bidang Bangunan dan Gedung pada Dinas Perumahan, Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) Kota Bekasi, Inryd Arieswaty mengatakan, Pemerintah Kota Bekasi sedang membangun gedung rumah sakit khusus perawatan penderita penyakit paru.

Pembangunan gedung enam lantai ini diperkirakan menelan biaya sebesar Rp 70 miliar.

“Pembangunannya menggunakan anggaran tahun jamak, tahun ini masuk dalam anggaran APBD Perubahan dan pada 2018 mendatang dianggarkan dalam APBD murni dengan total nilai Rp70 miliar,” katanya.

Inryd menjelaskan, gedung tersebut akan dibangun di Jalan Mayor Oking, Bekasi Timur.

Rencanannya, selain penderita penyakit paru, perawatan pertama penderita pasien penyakit jantung pun akan dirawat di gedung tersebut.

Saat ini, pemerintah telah membebaskan lahan sekitar 1.533 meter persegi. Nantinya gedung empat lantai tersebut akan dilengkapi dengan area parkir semi basement.

“Proses pengerjaan selama 390 hari kalender yang diperkirakan pada Desember 2018 pembangunan sudah selesai,” tandasnya. (kub/gob)



loading...

Feeds

Ahmad Syaikhu Tinggalkan Rumah Dinas

Ahmad Syaikhu Tinggalkan Rumah Dinas

AHMAD Syaikhu hari ini mulai meninggalkan rumah dinasnya yang berada di Kelurahan Jakasampurna, Kecamatan Bekasi Barat, Rabu (21/2/2018). Ia berkemas …