Bekasi Jadi Tuan Rumah Kongres Anak Indonesia

Arits Merdeka saat memberikan sambutan di Kongres Anak Indonesia (KAI), Senin (18/12/2017). (Foto: M Yakub/GoBekasi)

Arits Merdeka saat memberikan sambutan di Kongres Anak Indonesia (KAI), Senin (18/12/2017). (Foto: M Yakub/GoBekasi)

KOTA Bekasi terpilih menjadi lokasi Kongres Anak Indonesia (KAI) Nasional ke-14. Kali ini, kongres sendiri dilaksanakan dengan Dialog Kebangsaan Anak Indonesia dengan tema “Aku Cinta Perdamaian, Pluralisme dan Toleransi” (Pancasila Rumah Kita).

Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak Aris Merdeka Sirait, mengatakan jika KAI ini dilaksanakan atas dasar dan mandat ketentuan Artikel 13 konvensi PBB tentang Hak Anak, serta ketentuan pasal 24 UU RI Nomor 23 Tahun 2014 tentang Perlindungan anak yang menyebutkan negara, pemerintah, dan pemerintah daerah menjamin hak akan untuk mempergunakan haknya dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasan anak.

Menurutnya, pelaksanaan KAI ini bertujuan untuk memberikan kesempatan dan akses kepada anak untuk belajar tentang demokrasi, belajar menghargai pendapat, menghormati perbedaan, pluralisme, toleransi, serta hak azasi manusia yang diharapkan pada masa mendatang kelak dapat dijadikan pemerintah sebagai mekanisme nasional untuk mewujudkan hak partisipasi anak Indonesia.

“Sehingga permasalahan-permasalahan anak yang muncuk di tengah-tengah kehidupan dan lingkungan masyarakat dapat teratasi dengan melibatkan peran serta aktif anak,” kata dia usai dibukanya Kongres KAI ke-14 di Graha Hartika, Bekasi Selatan, oleh Wakil Wali Kota Bekasi Ahmad Syaikhu, Senin (18/12/2017).

Arist menambahkan, KAI yang dilaksanakan selama 3 hari penuh, diikuti lebih kurang 150 anak dari berbagai kota dan kabupaten di Indonesia serta didampingi 30 orang pendampingan masing-masing dari Lembaga Perlindungan Anak dan atas dukungan penuh dari pemerintah Kota Bekasi ini.

“Para peserta anak yang berusia di bawah 15 tahun akan dibagi kedalam 4 komisi membahas 4 topik besar yakni Komisi Perdamaian dan Keadilan, Komisi Kebangsaan dan Kebhinekaan Indonesia, Komisi Pluralisme dan Toleransi Anak Indonesia, serta Komisi Partisipasi Anak,” jelasnya.

Pelaksanaan seluruh proses KAI diselenggarakan oleh anak sebagai peserta KAI secara mandiri dari anak untuk anak tanpa keterlibatan orang dewasa sebagai pendamping selama proses KAI berlangsung.

“Untuk mendapatkan suara dan sikap nmak Indonesia yang sungguh-sungguh datang dari pendapat anak, panitia serta pendamping anak hanya bertindak sebagai fasilitator anak saja, dan tidak dibenarkan untuk terlibat dalam proses KAI,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua LPA Kota Bekasi, Ade Puspitasari, mengapresiasi apa yang telah terselengara saat ini. Ia pun mengaku bangga dapat menjadi tuan rumah di usia LPA Kota Bekasi yang belum genap 1 tahun.

“Kami dari Kota Bekasi bangga menjadi tuan rumah dalam Kongres KAI. Terlebih, LPA Kota Bekasi baru diresmikan pada Maret 2016, tetapi kami sudah melakuakn banyak kegiatan,” pungkasnya. (kub/gob)



loading...

Feeds