Aksi Pelemparan Bangku Stadion Wibawa Mukti Bentuk Akumulasi Kekecewaan Bobotoh?

Petugas merapikan bangku Stadion Wibawa Mukti, Rabu (8/11/2017). (Foto: Ist)

Petugas merapikan bangku Stadion Wibawa Mukti, Rabu (8/11/2017). (Foto: Ist)

LAGA final Liga I U-19 Persib kontra Persipura, Selasa (7/11/2017) malam berujung rusuh. Ribuan oknum bobotoh Persib mengamuk di Stadion Wibawamukti. Menyusul kekalahan Pangeran Biru, julukan Persib, ditaklukan Persipura dengan skor 1-0.

Selain meletuskan flare ke dalam lapangan stadion, para bobotoh juga melempar-lempar kursi stadion ke arah aparat dan offisial PSSI. Kekacauan terlihat dari Tribun Barat, Timur, Utara dan Selatan.

Emosi bobotoh kian memuncak saat official PSSI melakukan persiapan pemberian cinderamata kepada para pemain. Para bobotoh dan viking justru berteriak mencaci maki dan melempari official dengan botol mineral.

Amukan para suporter ini diduga akumulasi kekecewaan mereka lantaran Persib didera kekalahan berturut-turut dalam satu pekan terakhir. Sebelum kalah di Wibawamukti, Persib juga ditaklukan Persija 1-0 di Stadion Manahan Solo, Jumat (3/11/2017). Bobotoh juga kecewa dengan wasit yang memimpin pertandingan kala itu, yang menganulir gol striker Persib Ezechnil N’Douassel di menit 28.

Panglima Viking Bekasi, Andre Zati Pratama, mengakui kekecewaan para bobotoh di Stadion Wibawamukti sebagai akumulasi dari kekalahan Persib sejak di Solo.

“Ini posisinya berdekatan waktu. Kekecewaan suporter, masih terasa,” ujarnya saat dikonfirmasi Radar Bekasi (Grup Pojoksatu.id), Rabu (8/11/2017).

Meski tidak secara langsung, lelaki yang akrab disapa Andre ini juga, menyadarai bahwa indikasi lain dari kemarahan suporter, dipicu lantaran seretnya prestasi Persib. Tidak terkecuali, prestasi Persib senior.

“Saya tidak bisa lebih jauh dalam mengatakan ini. kekecewaan, pada Persib senior dan pada PSSI sangat kental saat ini, mungkin pengaruh media sosial juga,” katanya.

Sementara itu, saat disinggung mengenai pengrusakan suporter. Andre tidak basa basi, karena dari pantauannya, kursi yang di Stadion Wibawamukti itu tidak layak dan mudah patah. Beberapa kursi, saat semi final Sabtu (5/11/2017), kursi sudah ada yang longgar.

“Istri saya juga jatuh saat duduk. apa lagi suporter, mereka kan berdiri dan dibandingkan GBK, ini lebih buruk. saya merasakan langsung, dari beberapa stadion, kualitas kursi di Wibawamukti gampang rusak,” katanya.

Baginya, terjadinya pelemparan kursi karena ada sebab dan pemicu. Meski reaksional, kata dia, dampak bisa lebih buruk karena sudah ada bahan yang bisa dimanfaatkan. Terlebih, kursi yang sudah mudah lepas dari alasnya. (dho/pj/gob)



loading...

Feeds