Banyak Pecandu Narkoba Terapi Metadon

Ilustrasi pecandu narkoba

Ilustrasi pecandu narkoba

DINAS Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi menyebut pengguna narkoba yang ingin sembuh banyak memilih terapi metadon. Jumlah terapi metadon ini diprediksi akan terus mengalami pelonjakan hingga akhir 2017 mendatang.

Kepala Dinkes Kota Bekasi, Kusnanto Saidi menjelaskan, melalui Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) jumlah pemakai obat analgesik untuk pecandu heroin dan putaw mencapai 53 orang pada September 2017 ini. Bertambahnya jumlah terapi ini karena petugas diklaim melakukan penyisiran ke rumah warga.

“Sementara 2016 lalu di akhir tahun, jumlah pasien menembus 57 orang,” ujar Kusnanto kepada Radar Bekasi (Grup Gobekasi), Selasa (12/9/2017) kemarin.

Para pasien ini mengonsumsi obat berasal dari Rumah Sakit Unit Daerah (RSUD) dan Puskesmas Pondokgede. Para pasien ini mengonsumsi obat sesuai tempat yang sudah ditentukan. Saat terapi berlangsung, mereka juga mendapatkan pengawasan langsung dari petugas untuk mendapatkan pendampingan selama proses penyembuhan.

“Obat ini juga tidak dijual sembarangan, karena hanya diperuntukan bagi orang yang ingin sembuh dari narkoba,” jelas dia.

Kusnanto mengungkapkan, bahwa ada mekanisme penyembuhan melalui terapi metadon. Salah satu langkahnya yakni para pasien tidak bisa langsung dilepas begitu saja usai menjalani terapi sehingga perlu adanya pendampingan.

Sementara, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kota Bekasi, Dezi Sukrawati menjelaskan, setiap pasien yang akan mengikuti program metadon akan meminum obat berdosis tinggi. Dosis tersebut perlahan akan dikurangi seiring intensitas pasien mengikuti program penyembuhan.

“Proses penyembuhan pasien yang mengikuti PTRM berbeda-beda. Ada yang membutuhkan waktu satu tahun, bahkan sampai dua tahun lebih,” jelas dia.

Adapun terdapat dua jenis cara penyembuhan bagi pecandu narkoba. Yakni melalui obat dan non obat. Penyembuhan melalui obat ini para pecandu mendapatkan zat pengganti yang aman seperti metadon atau pengunaan obat lain. Hal ini dilakukan untuk mengurangi sakaw ketika proses penyembuhan.

“Sedangkan, penyembuhan non obat berupa terapi perilaku (berkelompok). Klien dibimbing untuk hidup normal tanpa menggunakan zat dengan berbagai kegiatan yang membangun,” tandas dia. (yay/pj/gob)



loading...

Feeds

20171119_112040

Tina Toon Ogah Pacarab dengan Artis

KERAP mendapat desakan dari orangtua mengenai pasangan, Tina Toon kini tengah mencari pacar. Sayang, dara kelahiran Jakarta, 24 tahun itu …
20171119_091447

Sunu dan Umi Pipik Beneran Nikah?

KABAR pernikahan Pipik Dian Irawati dan Sunu Fabian mengejutkan publik. Sebab, pernikahan yang dikabarkan dilakukan 3 tahun lalu itu tanpa sepengetahuan Suci, …
Rina Nose Pindah Agama?

Rina Nose Pindah Agama?

PRESENTER Rina Nose akhirnya buka suara terkait tudingan dirinya pindah agama usai memutuskan melepas hijab. Melalui akun Instagram miliknya, Rina …
3.700 pelajar Jadi Nasabah BPRS Patriot

3.700 Pelajar Jadi Nasabah BPRS Patriot

SEBANYAK 3.700 pelajar sudah menjadi nasabah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Patriot, demikian disamaikan Direktur Utama BPRS Patriot, Syahril T, …