Bekasi Kutuk Keras Tragedi Rohingya

Sejumlah komunitas Bekasi menggelar aksi solidaritas Bekasi Peduli Rohingnya, saat hari bebas kendaraan di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, Minggu (10/9).

Sejumlah komunitas Bekasi menggelar aksi solidaritas Bekasi Peduli Rohingnya, saat hari bebas kendaraan di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, Minggu (10/9).

TRAGEDI kemanusiaan di Rohingya, Rakhine State, Myanmar, terus mendapat kecaman dari masyarakat. Kemarin, warga Bekasi menunjukkan solidaritas kemanusiaan atas tragedi di perbatasan Myanmar-Bangladesh itu dengan mengutuk peristiwa itu di acara Car Free Day (CFD).

Aksi yang digelar sejumlah elemen mahasiswa, seperti KAMMI Bekasi, FSLDK, Sinergi Bekasi, ODOJ dan lainnya, itu mendapat antusias peserta CFD.

Ketua KAMI Bekasi, Zainurkliwon mengatakan, pihaknya segala bentuk kekerasan yang terjadi terhadap masyarakat Rohingnya, sesuai dengan Pembukaan UUD 1945.

Mereka mengutuk atas nama kemanusiaan dan keadilan terhadap Genosida yang terjadi di Rohingya, karena Genosida merupakan salah satu pelanggaran berat HAM yang berada dalam Yurisdiksi International Criminal Court.

Mereka mendesak kepada Pemerintah Indonesia terutama Presiden Joko Widodo dan Menteri Luar Negeri untuk bersikap tegas dan melakukan Political Pressure Diplomacy.

“Karena, kebijakan diplomasi sunyi terhadap Pemerintah Myanmar terbukti tidak berjalan efektif. Mendesak kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan parhatian serius terhadap kejahatan kemanusiaan praktik genosida yang menimpa etnis Rohingya, dan membawa pihak-pihak yang harus bertanggung jawab untuk diadili kehadapan Mahkamah Kejahatan Internasional,” ujarnya.

Mereka juga meminta supaya Komite Hadiah Nobel untuk mencabut penghargaan Aung San Suu Kyi sebagai pemimpin yang berpengaruh di Myanmar dan memperoleh Nobel Perdamaian 1991.

“Ternyata telah terbukti misi perdamaian hanya untuk memperjuangkan kebebasan dirinya, bukan karena perjuangan atas nilai kemanusiaan,” ucapnya.

Negara anggota ASEAN juga diharapkan dapat memberikan sanksi Diplomatik kepada Myanmar.

“Pemerintah Indonesia untuk melakukan langkah-langkah diplomatik mulai dari memanggil pulang Dubes Indonesia di Myanmar hingga pemutusan hubungan diplomatic dengan Myanmar. Apabila Myanmar tetap melakukan kekerasan struktural terhadap Etnis Rohingya,” tambahnya.

Mereka juga meminta supaya Duta Besar Myanmar untuk Indonesia diusir dari Indonesoia.

Mereka mendukung penuh upaya pemerintah Indonesia untuk aktif dalam menyelesaikan krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar.

“Seluruh masyarakat Indonesia, khususnya Kota dan Kabupaten Bekasi untuk berempati serta memanjaatkan doa terbaik untuk saudara kita yang sedang berjuang di Rohingya melawan kejahatan yang tak memiliki perikemanusiaan dan perikeadilan,” paparnya.

Ia juga menyampaikan bahwa KAMMI secara nasional di seluruh Indonesia telah memiliki sikap sama mengecam tindakan kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Myanmar.

“Ini murni kejahatan kemanusian, tidak perlu dibawa-bawa konflik agama tertentu lebih dulu. Agama manapun tidak mengajarkan penganutnya menindas manusia. Jika ada yang terlibat dalam penindasan, pembantaian itu, itulah orang-orang yang menyimpangkan agamanya dan orang itulah yang bisa kita anggap teroris,” sambungnya.

KAMMI Bekasi juga mengajak seluruh masyarakat Bekasi tidak tinggal diam melihat persoalan kemanusiaan di Rohingya. “Apa yang kita punya bantuan harta, tenaga, doa kita berikan untuk menyudahi penderitaan umat muslim di Rohingnya,” tutupnya.

Dalam aksinya mereka melakukan pengumpulan tandatangan, pengumpulan donasi untuk disalurkan ke Rakhine, Myanmar dan lainnya.

(neo/pj/gob)



loading...

Feeds

Selamat Hari Maritim Nasional!

Selamat Hari Maritim Nasional!

HARI itu, 23 September 1963. Suasana di sekitar Jalan Prapatan (kini Jalan Usman Harun), Jakarta semarak. Indonesia menghelat Musyawarah Nasional …