Mendikbud: Stop Berikan PR Matematika ke Siswa!

Siswa SMAN 10 Kota Bekasi yang belum diakui statusnya belajar di ruangan kelas 12 SMA Yaperti, Kelurahan Pejuang, Medansatria. Rabu (9/8). Disdik Jabar memastikan mereka akan diterima di SMAN Terbuka 10. Foto:Raiza/Radar Bekasi

Siswa SMAN 10 Kota Bekasi yang belum diakui statusnya belajar di ruangan kelas 12 SMA Yaperti, Kelurahan Pejuang, Medansatria. Rabu (9/8). Disdik Jabar memastikan mereka akan diterima di SMAN Terbuka 10. Foto:Raiza/Radar Bekasi

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengingatkan agar para guru tidak setiap hari memberikan pekerjaan rumah (PR) bagi murid-muridnya.

Ini merupakan imbauan bagi para guru yang senang memberikan pekerjaan rumah kepada muridnya. Dengan adanya penguatan pendidikan karakter (PPK), siswa tidak boleh lagi diberikan PR.

“Guru harus lebih kreatif, jangan sedikit-sedikit PR, sedikit-sedikit mencatat buku sampai habis,” kata Muhadjir, Kamis (7/9/2017).

Dia menyebutkan PR berupa matematika atau mata pelajaran lain tidak perlu diberikan karena tugas seperti itu cukup diselesaikan di sekolah, bukan rumah. Sebaliknya, guru harus bisa memberikan PR yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter prioritas dalam PPK.

“Dalam PPK, PR itu jangan Matematika. Kalau itu selesaikan saja di sekolah. PR-nya apa? Misalnya untuk nilai karakter gotong royong, siswa dikasih PR berkunjung ke teman-temannya yang sakit, atau berkunjung ke panti asuhan, atau ikut kerja bakti di lingkungan rumah atau sekolah. Itulah PR dalam PPK. Ada nilai gotong royong dan rasa solidaritas. Sekolah atau guru harus inisiatif memberikan PR seperti itu dalam PPK,” ucapnya.

Dalam PPK, nilai karakter prioritas yang dimaksud Muhadjir ada lima, yaitu religius, nasionalis, integritas, gotong royong, dan mandiri.

Dia juga mengimbau guru agar bisa menanamkan sikap toleransi antarumat beragama kepada siswa. Siswa juga harus mampu menghormati perbedaan, mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragam atau majemuk.

Dia menuturkan, penerapan PPK di sekolah harus menggunakan metode School Based Management, atau Manajemen Berbasis Sekolah. Menurutnya, Manajemen Berbasis Sekolah akan memerkuat ekosistem pendidikan karena sekolah akan menjadi sentral atau pusat. Sedangkan lingkungan sekitar dijadikan sumber-sumber belajar (learning resources).

“Semua aktivitas belajar siswa, baik yang berada di sekolah, masyarakat, maupun keluarga harus dimanajemeni oleh sekolah. Jadi sekolah tidak boleh lagi tidak bertanggung jawab atas semua kegiatan siswa,” tegasnya.

Dia menambahkan, salah satu tugas sekolah adalah mengarahkan anak-anak dalam penerapan PPK di luar sekolah sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar.

Sekolah juga diminta mengedukasi lingkungan sekolahnya, dan melihat potensi apa saja di lingkungan sekolah yang bisa menjadi sumber belajar siswa. (esy/jpnn/gob)



loading...

Feeds

IMG_20170918_082345

Anggota Kodim 0509 Dites Urine

DANDIM 0509 Kabupaten Bekasi berharap anggotanya tidak terlibat dalam narkoba, baik sebagai pemakai apalagi pengedar. Hal itu diungkapkannya saat tes …