Jelang Pilkada, Konstelasi Politik di Kota Bekasi Masih Terus Berubah

Ilustrasi pilkada. (Foto: Jawa Pos)

Ilustrasi pilkada. (Foto: Jawa Pos)

Suhu politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Bekasi nampaknya semakin memanas. Hal ini menyusul adanya kabar perpisahan koalisi Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera yang mengusung Rahmat Effendi dan Ahmad Syaikhu.

Pecahnya koalisi Partai Golkar dan PKS di Kota Bekasi disebut-sebut akibat situasi nasional atau dampak dari Pilkada DKI Jakarta. Ditingkat pusat, para elit politik sudah merencanakan koalisi antar partai politik.

Contohnya saja, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan Partai Golkar, juga Partai Gerindra yang kini terlihat amat mesra dengan PKS.

Ternyata benar, situasi nasional terus menggurita sampai tingkat provinsi dan daerah. Pilgub Jawa Barat adalah contohnya dimana PDIP-Golkar resmi menjalankan kerjasama politik, begitu pun Gerindra dan PKS dengan koalisi merah putihnya. Bagaimana di Kota Bekasi?

Pengamat sekaligus konsultan politik, Jiwang Jiputro, menyebut jika konstelasi politik di Kota Bekasi masih terus berubah, meskipun nama Ahmad Syaikhu sudah masuk dalam bursa bakal calon Wakil Gubernur Jawa Barat mendapamping Dedy Mizwar.

“Bila dari internal partai menyebut itu sudah 95 persen. Tapi, menurut saya jika belum ada 100 persen itu belum bisa menjadi acuan, masih akan terus berubah,” kata Jiwang, Sabtu (26/8/2017) kepada GoBekasi.co.id.

Artinya, kata Jiwang, Ahmad Syaikhu masih berpeluang untuk ikut dalam pertarungan politik di Kota Bekasi. Hanya saja, ia tidak bisa memprediksi apakah Ahmad Syaikhu akan kembali mendampingi Rahmat Effendi.

“Masih berpeluang, ya, Ahmad Syaikhu untuk bertarung di Kota Bekasi. Masalah kemungkinan maju bersama Geindra itu juga sangat mungkin,” ujarnya.

Jiwang melanjutkan, sebenarnya, jika Ahmad Syaikhu ikut dalam pesta demokrasi lima tahunan di Kota Bekasi, PKS masih mempunyai peluang untuk merebut kursi wali kota.

“Saya rasa, tingkat popularitas antara Rahmat Effendi dan Ahmad Syaikhu masih setara. Jadi, PKS masih berpeluang,” tutur Jiwang.

ia mengakui, kalau Pilkada Kota Bekasi 2018 mendatang akan lebih seru. Disisi lain, munculnya nama mantan Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad dari PDIP.

“Jadi apabila 3 tokoh itu maju, lebih seru, dan masyarakat juga merasakan sebenarnya itu politik. Dan nanti bisa dilihat siapa tokoh politik di Kota Bekasi itu sebenarnya bila salah satu dari mereka menang,” papar dia.

Soalnya, di lapangan, kata Jiwang, masyarakat masih diburamkan akan tokoh politik di Kota Bekasi. Banyak kader internal partai dari tiga tokoh itu yang mengklaim jika orang di partainya lah yang menjadi tokoh politik di Kota Bekasi.

“Jadi harus kita buktikan secara rill di Pilkada Kota Bekasi, agar semua apa yang menjadi pertanyaan masyarakat terjawab, namun harus didasari oleh profesionalisme dari personalnya masing-masing,” tandas Jiwang. (kub/gob)



loading...

Feeds

Selamat Hari Maritim Nasional!

Selamat Hari Maritim Nasional!

HARI itu, 23 September 1963. Suasana di sekitar Jalan Prapatan (kini Jalan Usman Harun), Jakarta semarak. Indonesia menghelat Musyawarah Nasional …