Ternyata… Sejumlah Pejabat di Bekasi Jadi Korban First Travel

Illustrasi. (Foto: Jawa Pos)

Illustrasi. (Foto: Jawa Pos)

SEJUMLAH pegawai dan pejabat di lingkungan Pemkot Bekasi juga menjadi korban First Travel. Salah satunya dialami Kasubag Humas Pemkot Bekasi Dalfi Handri. Dalfi mengaku lima kali gagal berangkat umrah lewat biro perjalanan yang dikelola pasangan suami istri Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan tersebut.

Dalfi menuturkan, dirinya pertama kali mendaftar untuk ibadah umrah melalui travel tersebut pada tahun 2015. Tapi hingga kini, tidak kunjung diberangkatkan. Padahal, dia dan istri sudah membayar lunas biaya pemberangkatannya.

Dalam kurun waktu 2015 hingga 2017, dia mengaku sudah mengalami lima kali pembatalan keberangkatan. Hal itu tentu membuatnya kecewa. Karena, keinginannya untuk beribadah malah gagal.

“Saya daftar 2015 bersama istri. Dijanjikan berangkat tahun 2016. Tapi sampai detik ini nggak ada realisasinya sudah,” cerita Dalfi, kemarin.

Ia menuturkan, informasi terkait First Travel diperoleh dari istrinya. Dari informasi yang ia peroleh, biro perjalanan ibadah umrah itu disebut – sebut memiliki pelayanan yang baik. Selain itu, menawarkan harga yang cukup murah. Kenyataannya, kini justru bikin susah. Gagal terbang, duit melayang.

“Temannya bilang bahwa bagus, pelayanannya bagus, hotelnya enak. Saya (juga) punya saudara, istrinya sudah berangkat sama anaknya dua, sama, hotelnya dekat. Ya udah kita mau ajalah,” katanya.

Karena tertarik, ia memutuskan untuk daftar pada tahun 2015. Pada awal pendaftaran, harga yang ditawarkan sebesar Rp14,7 juta.

“Totalnya masing – masing Rp16,8 juta, total Rp33,6 juta (dua orang bersama istri). Tiga kali pembayaran, saya panjar dulu satu orang Rp5 juta, baru pelunasan pada 16 Desember 2015. Akhirnya, ada pengumuman pada April, karena ada kendala teknis, diumumkan kalau mau berangkat tambah Rp2,5 juta,” paparnya.

Ia dijanjikan lima kali berangkat oleh biro perjalanan tersebut. Pertama, 17 April, 25 April ditunda lagi 15 Mei, ditunda lagi tanggal 26 Mei, terakhir 16 Juni.

“Saya ditawarkan lagi upgrade (pembaruan) sehingga nilainya itu satu orang Rp22 juta bulan Juni 2017. Saya nggak mau, gelagatnya udah nggak bener, saya lima kali di cancel (batalkan),” keluhnya kesal.

Dirinya mengaku kecewa atas pelayanan dari travel tersebut. Karena, tujuan mulia untuk beribadah ternyata yang didapat justru seperti ini.
“Sudah (melakukan pelaporan), saya ada grup dengan kelompok terbang. Saya beberapa hari yang lalu saya itu menemui anggota DPR dari komisi VI meminta bantuan, fasilitasi lah. Yang jelas kita, kalau tidak berangkat, uangnya dikembalikan, gitu,” tambahnya.

Disinggung apakah ada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemkot Bekasi lainnya yang menjadi korban travel tersebut, dia menduga sangat mungkin bukan hanya dirinya yang menjadi korban. Namun, ia tidak tahu berapa jumlah pastinya.

“Kalau puluhan (orang) mungkin ada lah. Saya nggak bisa pastikan, cuma mungkin kisaran 10 sampai 30 ada ya,” tutupnya.

Sebelumnya diberitakan, enam orang warga dari satu keluarga menjadi korban biro perjalanan tersebut. Mereka enggan mengembalikan koper karena masih berharap diberangkatkan.

Sekedar informasi, bos First Travel sudah ditahan oleh pihak kepolisian atas kasus tersebut. Pihak kepolisian juga membuka posko pengaduan untuk para korban jasa travel umrah tersebut.

(neo/pj/gob)



loading...

Feeds