Keahlian SMK Tak Sesuai Kebutuhan Industri

Ilustrasi siswa SMK. (Foto: Dokumentasi Radar Bekasi/Randy)

Ilustrasi siswa SMK. (Foto: Dokumentasi Radar Bekasi/Randy)

BANYAK sekali keluhan terkait kurikulum kejuruan. Khususnya dari kalangan industri. Seperti kurikulum keahlian yang diajarkan kepada siswa tidak nyambung atau ketinggalan zaman dengan teknologi di industri.

Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad mengatakan, saat ini pemerintah sedang memperbaiki kurikulum di SMK. Tetapi dia hanya kurikulum bagian keahliannya yang direvitalisasi. “Bukan kurikulum secara umumnya,” jelasnya usai penandatanganan skema sertifikasi KKNI Level IV di kantor Kemendikbud, Rabu (23/8).

Hamid mengatakan di SMK ada kurikulum A, B, dan C. Nah untuk kurikulum A dan B itu bersifat umum. Seperti mata pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, matematika, atau bahasa Inggris. Kurikulum ini tetap mengacu pada kurikulum nasional alias tidak berubah.

 

 Sedangkan untuk kurikulum C yang disesuaikan dengan bidang keahlian siswa dan itu yang direvisi. Tujuannya supaya klop dengan keputusan industri. Menurut Hamid tujuan perbaikan kurikulum keahlian itu supaya anak didik SMK nantinya bisa terserap ke dunia kerja.

Pria yang juga menjabat sebagai Plt Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud itu menjelaskan, industri juga bisa mengusulkan perbaikan kurikulum kepada SMK yang digandeng. Misalnya perusahaan motor merasa ada yang kurang dalam pembelajaran SMK bidang otomotif, maka bisa mengusulkan tambahan materi pelajaran.

“Dengan catatan industri itu nantinya juga bersedia menyerap lulusan SMK yang diajak kerjasama itu,” jelasnya.

Terkait jumlah yang diserap, tentunya disesuaikan dengan kebutuhan internal industri tadi. Bahkan tidak hanya itu, Hamid mengungkapkan saat ini ada sebuah perusahaan minimarket yang memiliki kelas khusus. “Namanya kelas Alfamart. Anak-anak seragamnya sudah seragam Alfamart,” jelasnya.

Dengan kerjasama ini, pihak Alfamart bisa menyisipkan materi pelajaran sesuai dengan usahanya. Seperti materi pelajaran terkait ritel dan sejenisnya.

Menurut Hamid saat ini serapan anak didik lulusan SMK di dunia kerja masih belum maksimal. Untuk SMK-SMK bagus dan binaan Kemendikbud, serapannya sudah sekitar 85 persen. “Tetapi masih banyak SMK yang kualitasnya perlu ditingatkan. Sehingga lulusannya bisa terserap dunia industri,” jelasnya.

Nah untuk meningkatkan kualitas SMK-SMK itu, terutama sekolah swasta, maka hal itu menjadi tanggungjawab bersama dengan gubernur atau pemerintah provinsi. Sebab mulai tahun ini pengelolaan SMK sudah berpindah tangan. Dari semula ada di kabupaten/kota menjadi milik provinsi.

(wan/JPC/gob)



loading...

Feeds

Selamat Hari Maritim Nasional!

Selamat Hari Maritim Nasional!

HARI itu, 23 September 1963. Suasana di sekitar Jalan Prapatan (kini Jalan Usman Harun), Jakarta semarak. Indonesia menghelat Musyawarah Nasional …