Sedih… Begini Curhatan Siswa SMAN 10 Bekasi yang Tak Diakui Pihak Sekolah

Siswa SMAN 10 Kota Bekasi yang belum diakui statusnya belajar di ruangan kelas 12 SMA Yaperti, Kelurahan Pejuang, Medansatria. Rabu (9/8). Disdik Jabar memastikan mereka akan diterima di SMAN Terbuka 10. Foto:Raiza/Radar Bekasi

Siswa SMAN 10 Kota Bekasi yang belum diakui statusnya belajar di ruangan kelas 12 SMA Yaperti, Kelurahan Pejuang, Medansatria. Rabu (9/8). Disdik Jabar memastikan mereka akan diterima di SMAN Terbuka 10. Foto:Raiza/Radar Bekasi

KEMARIN siang, Rabu (9/8/2017), sejumlah siswa menggunakan seragam pramuka berada di dalam ruang kelas 11 dan 12 SMA Yapetri. Dua ruang kelas itu ‘menampung’ 72 siswa SMAN 10. Lokasinya tak jauh dari SMAN 10.

Ada yang berbincang-bincang dan ada yang sibuk dengan buku yang dimilikinya. Mereka adalah murid yang tidak diakui sebagai siswa SMAN 10 Kota Bekasi.

Sekitar pukul 13.00 ada yang keluar kelas untuk menunaikan ibadah salat Dzuhur. Siswa lainnya juga terlihat berlari-lari di lorong kelas karena tidak ada jam pelajaran.

Diantara mereka, salah satu siswa yang masih berada di kelas, Alex Sandro (15) terlihat tengah bersama teman-temannya di ruang kelas 12. Tidak lama kemudian sejumlah siswa pulang.

Saat bersamaan, di luar ruang kelas, perwakilan orang tua dan wali murid berada di halaman parkir sekolah. Mereka melakukan konferensi pers untuk memperjuangkan nasib anak-anaknya.

Salah satu murid yang ditemui, Alexa Sandro (15) tidak langsung pulang. Dirinya berdiri tepat di depan kelas tersebut. Saat ditemui, ia bersedia diwawancarai Radar Bekasi (Grup gobekasi.co.id).

Sebelumnya: 72 Siswa SMAN 10 Bekasi Tidak Diakui Pihak Sekolah

Alex, panggilan anak laki-laki yang saat ditemui menggunakan seragam pramuka itu mulai bercerita. Ia mengaku sudah lama tidak menerima pelajaran dari guru. Dengan semangat mendapatkan pelajaran dari guru, setiap harinya ia datang ke SMA Yaperti pukul 07.00 WIB. Sederhana, ia hanya berharap mendapat pendidikan seperti anak seusianya di SMAN 10.

Ia dan teman-temannya pun menggunakan seragam seperti ingin pergi sekolah. Mereka pun membawa tas yang berisi sejumlah buku untuk mengikuti proses belajar.

Tapi, setiap mereka datang ke sekolah mereka tidak menemui guru yang mereka tunggu – tunggu. Ia hanya bertemu dengan teman sekelasnya selama hampir beberapa pekan ke belakang.

Alex mengatakan, ia ingin mendapatkan kesempatan untuk menggapai cita – citanya. “Udah lama, udah nunggu berapa hari nggak ada guru, apalagi sebentar lagi kan mau ulangan tuh, terus nggak ada guru, kan sedih,” kata dia dengan wajahnya yang polos.

Tak banyak harapannya, ia hanya ingin diberikan pelajaran oleh guru. Ia juga berharap supaya dirinya dan teman – temannya diakui oleh pihak sekolah. “Biar ada guru aja, sama dianggap saya sama yang lainnya,” tambahnya.

Siswa lainnya yang bernasib sama, Yosua (15) juga demikian. Hari – harinya ia ke sekolah. Ia memiliki pengalaman berkesan saat bersekolah di tempat tersebut.

Salah satunya ialah pernah diajarkan orang tua siswa. Karena, tidak ada guru yang mengajarkan mereka. Terkadang, kata dia, dirinya bingung tentang apa yang akan dipelajarinya. Karena, tidak memiliki bahan. Ia dan teman-temannya pun belajar sendiri.

Ia merasa kecewa dengan kondisi itu. Sederhana inginnya, hanya bisa mendapatkan pelajaran dan pendidikan dari guru.

“Kita kan masa depan bangsa juga, jadi nggak terlantar kayak gini juga. Supaya guru cepat ngajar dan kita bisa dapat ilmunya,” katanya.

Sampai dengan kemarin, Rabu (9/8/2017) mereka tetap bersekolah di SMAN Yapetri. Mereka melakukan aktivitas di sekolah tersebut atas dasar kesepakatan antara RW dan pihak SMAN 10 Kota Bekasi.

(neo/pj/gob)



loading...

Feeds