Begini Peredaran Dumolid di Bekasi, Kepala Farmasi Ungkap Efeknya

(Ilustrasi obat)

(Ilustrasi obat)

DUMOLID, salah satu obat yang dikonsumsi artis Tora Sudiro dan istrinya, Mieke Amalia, hingga mengantarnya ke jeruji besi, ternyata tidak dijual bebas di Kota Bekasi.

Penulusuran GoBekasi dilapangan, peredaran dumolid tidak dijual bebas meski tersedia. Menurut sejumlah apotaker di bilangan Bekasi Selatan, pembelian dumolid harus menggunakan resep dokter.

“Kami tidak jual obat dumolid mas, kalaupun jual, harus ada surat rujukan,” demikian kata-kata sama dilontarkan para apotaker yang berada di bilangan Kecamatan Bekasi Selatan, Jumat (4/8/2017) kepada GoBekasi.co.id.

Kepala Farmasi di Dinas Kesehatan Kota Bekasi, dr. Karmen, mengaku kalau dumolid sejatinya adalah obat murah. Hanya saja, untuk penjuaalnnya tidak dibebaskan.

“Harganya tidak sampai ratusan ribu, murah. Tapi itu hanya untuk pasien rawat jalan. Butuh rujukan dokter untuk mendapatkan obat itu,” kata Karmen.

Namun demikian, kata Karmen, memang banyak oknum yang menyalahgunakan obat tersebut untuk kepentingan hura-hura.

“Bila beli secara gelap, obat itu memang mahal, bisa berlipat-lipat dari harga yang asli. Sampai ratusan ribu,” tukas Karmen.

Dumolid, terang Karmen, tidak masuk dalam indikasi narkotika. Hanya saja, zat yang terkandung di dalamnya bernama nitrazepam. Termasuk kedalam jenis psikotropika.

Nitrazepam kata dia, sudah di atur dalam Undang-Undang Psikotropika, yaitu UU Nomor 5 Tahun 1997.

“Bernama generik nitrazepam, Dumolid masuk ke dalam psikotropika golongan IV. Penggunaan obat ini dianggap penyalahgunaan jika dibeli tanpa resep dokter dan untuk mendapatkan efek penenangnya,” katanya.

Psikotropika sendiri adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis bersifat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Menurutnya, sifat dari zat nitrazepham itu hipnotic seductive. Dimana memang efek zat ini kerap digunakan oleh para dokter, khususnya dokter spesialis jiwa atau psikiater.

“Sejatinya obat itu dikunsumsi untuk orang ganngguan jiwa, stres ringan, tidak bisa tidur atau insomnia. Namun pemakainnya tidak berlebihan,” terang Karmen.

Namun, sepanjang obat itu direkomendasikan oleh dokter sebagai terapi atau pengobatan, dan cara memperolehnya atas resep dokter maka tidak ada pelanggaran hukum.

Hal itu di atur dalam pasal 14 ayat 4 UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, dinyatakan bahwa penyerahan psikotropika oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, dan balai pengobatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan resep dokter.

Karmen menegaskan, lembaganya akan reaktif pada distribusi obat-obatan bekerjasama dengan pihak kelurahan dan kecamatan di Kota Bekasi.

“Kalau ada yang menjualnya secara bebas tentu kita akan cabut ijin operasinya, juga para apaotaker kita cabut. Tapi harus dengan bukti yang kuat, tidak ada surat peringatan, langsung kita cabut,” tandasnya. (kub/gob)



loading...

Feeds