Memasuki Musim Hujan, Pemkot Upayakan Normalisasi 15 Sungai

Camat Sofyan Hadi bersih-bersih sungai untuk dinormalisasi bersama PJT, Jumat (5/6). FOTO: Muhammad Asrori/GoBekasi

Camat Sofyan Hadi bersih-bersih sungai untuk dinormalisasi bersama PJT, Jumat (5/6). FOTO: Muhammad Asrori/GoBekasi

BANJIR ibarat tamu tahunan bagi kaum urban. Ia seperti seperti demonstrasi yang tak pernah digubris, namun tak henti menagih. Perbaikan sistem drainase, perbanyak lahan resapan, hentikan pengotoran sungai, dan jangan biarkan pembangunan semakin banal adalah solusinya.

Memasuki musim penghujan ini, Pemerintah Kota Bekasi sudah ancang-ancang berusaha menormalkan 15 sungai menjelang pergantian musim. Hal itu, untuk mengantisipasi banjir akibat sedimentasi di sungai.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengakau kalau nanti, biayanya berasal dari anggaran pemeliharaan saluran sebesar Rpc20 miliar.

“Kita targetkan normalisasi 15 sungai rampung paling lambat pada Oktober mendatang, normalisasi berupa pengerukan sedimentasi, dan pengangkatan sampah di saluran,” kata Tri, Senin (31/7/2017).

Saluran yang akan dikeruk itu di antaranya adalah Kali Kapuk, Kali Cakung, aliran Kali Rawalumbu, Kali Sunter, Kali Bekasi, dan anak Kali Blencong. Selebihnya, saluran air yang membelah sejumlah perumahan seperti perumahan Narogong, maupun Pondok Hijau Permai.

Pengerukan kali dan pengangkatan sampah akan dilakukan oleh 20 petugas. Mereka dilengkapi dua alat berat. Setiap hari, tim pematusan dipecah menjadi dua untuk membersihkan saluran di dua tempat berbeda.

Tri mengakui upaya normalisasi kerap tidak maksimal karena kendala di lapangan. Misalnya, badan sungai yang sempit, sehingga alat berat tidak bisa masuk. Sehingga pengerukan dilakukan secara manual.

Ia juga mengeluhkan perilaku masyarakat yang belum berubah menjadi penyebab utama normalisasi harus dilakukan setiap tahun. Beberapa saluran yang sudah dikeruk, kata Tri, kembali tertutup sampah satu bulan kemudian.

“Selang satu minggu saja, sampah sudah kembali menumpuk. Karena itu, kami masih kewalahan, karena keterbatasan personel,” tuturnya.

Karena itu, Tri meminta agar penduduk mengubah perilaku membuang sampah ke saluran. Sebab, hal tersebut berpotensi menyumbat aliran.

“Kalau saluran tidak maksimal, aliran akan tersendat dan menimbulkan banjir,” jelas

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kota Bekasi, Thamrin Usman, mengatakan, anggaran normalisasi cukup besar, namun sulit diaudit. Sedangkan, wilayah yang dinormalisasi belum bisa bebas dari banjir.

“Kami menganggap normalisasi yang dilakukan pemerintah tidak maksimal,” tegas Thamrin.

Ia menuding normalisasi sungai yang dilakukan pemerintah masih asal-asalan dan dilakukan jika perlu saja. Menurut dia, pola seperti itu harus diubah. Pemerintah harus fokus menormalkan kali di satu titik sampai selesai.

“Seperti di Jakarta, alat berat diturunkan semua untuk normalisasi sampai selesai, kemudian baru pindah ke titik lainnya,” imbuhnya.

Menurut Thamrin, pemerintah harus berani membeli alat berat untuk menormalisasi kali. Sebab, jika menggunakan pihak ketiga terlalu boros anggaran.

Selain itu, normalisasi oleh pihak ketiga juga rawan asal-asalan, karena normalisasi sulit diaudit.

“Lebih baik beli alat berat untuk jangka panjang,” tandas Thamrin. (kub/gob)



loading...

Feeds

20171121_095837

Kenangan Terakhir dengan Laila Sari

MASIH belum hilang kenangan terakhir Darsih bersama kakaknya, almarhumah Laila Sari. Terlebih, sebelum sang kakak mengembuskan nafas terakhirnya, dia masih …
PPP Tetap Komit Dukung Rahmat Effendi

Sholihin Kokoh Didukungan 17 Kursi

KETUA DPC PPP Kota Bekasi, Sholihin mendapat dukungan lima partai untuk maju pada Pilkada Kota Bekasi 2018 mendatang. Partai-partai tersebut …
JPNN

Shireen Sungkar Minta Doa Masyarakat

PASANGAN artis Shireen Sungkardan Teuku Wisnu belum lama ini merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang keempat. Di momen spesial ini, …