Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Bekasi Diklaim Menurun

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Bekasi tengah menekan potensi kekerasan terhadap anak. Hingga pertengahan 2017 ini, tercatat sudah 67 kasus kekerasan anak.

Jumlah tersebut termasuk dalam kekerasan psikis maupun fisik. Apalagi Kota Bekasi baru saja didapuk sebagai Kota Laik Anak, sehingga secara otomatis tindakan kekerasan anak perlu jadi perhatian khusus.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (DP3A) Kota Bekasi, Mien Aminah, menjelaskan jumlah tersebut terbilang menurun dibandingkan pada periode 2016 yang mencapai 107 kasus kekerasan. Dia mengatakan, kekerasan yang melanda anak di Kota Bekasi kerap dilakukan oleh orang terdekat.

“Banyak juga yang dilakukan oleh orang tua itu sendiri,” ujar Mien, sapaannya, kepada Radar Bekasi (grup gobekasi.co.id) Kamis (27/7/2017) kemarin.

Mien mengungkapkan ada kesalahan dalam memahami pembentukan karakter yang dilakukan orang tua. Kekerasan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak kerap dilakukan ketika memberikan pendidikan non formal. Perbedaan pemahaman orang yang mendasari munculnya kekerasan, baik yang disengaja maupun tidak.

Padahal, kata dia, hak anak sudah tertuang dalam peraturan yang dimana anak perlu mendapatkan perhatian penuh.

“Ini yang harus kita pahamkan kepada orang tua. Bahwa, kadang-kadang mereka sudah terbiasa mendidik dengan membentak, jadi sudah terbiasa,” jelas dia.

Mien menambahkan, orang tua berperan krusial dalam membentuk kepribadian anak. Orang tua sudah seharusnya mendidik dengan cara yang lebih manusiawi, kendati setiap ruang keluarga memiliki masing-masing cara dalam mengarahkan anak.

“Orang tua harus berperan penting dalam memberikan perhatian. Kemudian juga kedisiplinan dan perhatian, tetapi juga harus bisa dengan tidak melakukan kekerasan,” tegas dia.

Dia berharap laporan kasus kekerasan terhadap anak tidak terjadi lagi hingga penghujung tahun 2017. “Ya semoga hingga semester ini saja jumlahnya,” tandas dia.

(yay/pj/gob)



loading...

Feeds