SMPN 7 Kota Bekasi Tarik Uang Seragam sampai Jutaan, Orangtua Menjerit!

Seragam Sekolah yang diperjual belikan di Pasar Wisma Asri, Bekasi Utara. Foto: Istimewa/GoBekasi

Seragam Sekolah yang diperjual belikan di Pasar Wisma Asri, Bekasi Utara. Foto: Istimewa/GoBekasi

BERBAGAI cara untuk memperkaya diri di kalangan pendidikan di Kota Bekasi masih terus terjadi. Contohnya saja, di SMPN 7 Kota Bekasi, Kelurahan Kayuringin, Kecamatan Bekasi Selatan.

Meskipun Penerima Peserta Didik Baru (PPDB) online telah selesai dan tidak terdampak pada pungutan liar. Ternyata tidak berhenti disitu. Buktinya, sejumlah orangtua siswa di SMPN 7 Kota Bekasi mengaku keberatan dengan program belanja pakaian.

Pasalnya, setiap orangtua di SMPN 7 Kota Bekasi, dipaksa membelanjakan perlengkapan sekolahnya di koperasi SMPN 7 Kota Bekasi. Tarikan iuran yang diwajibkan pun sungguh menggiurkan.

Setiap orangtua siswa, diwajibkan membeli seragam sekolah yang mencapai jutaan rupiah. Pihak sekolah, mematok harga tersebut untuk perlengkapan sekolah seperti kerudung bagi wanita, topi, baju, dan celana.

Parahnya lagi, orangtua siswa tidak diperkenankan meminta bukti kwitansi pembelian. Contohnya saja Agus, nama samaran. Ia mengaku kalau ada yang keliru pada belanja pakaian.

Ia juga mencurigai, kalau setiap SMP Negeri yang ada di Kota Bekasi melakukan hal yang sama. Perampokan berjamaah dari belanja pakaian. Modusnya, dengan mengikutsertakan koperasi sekolah.

“Saya dimintai uang Rp 1 juta lebih hanya untuk pakaian saja. Kita tidak bisa beli diluar, hanya boleh di koperasi sekolah. Kwitansi gak dikasih, ini gak masuk akal, ada korupsi ini,” terpa Agus, Kamis (27/7/2017) kepada GoBekasi.co.id.

Memang, ia tidak merasa khawatir dengan harga tersebut. Sebab, ia mengaku masuk dalam keluarga mapan. Hanya saja, ia merasa iba dengan orangtua siswa yang masuk dalam golongan tidak mampu.

“Banyak yang protes sebenarnya. Karena memang harganya cukup gila. Saya prediksi ini semua sekolah negeri di Kota Bekasi bermain dengan hal ini, padahal seharusnya negeri itu dimudahkan. Bukan dipersulit,” katanya.

“Banyak orang yang terpaksa membelinya. Karena memang kebutuhan yang mendesak. Nanti bakal kita laporkan ke pihak yang berwajib bahwa ada kekeliruan dalam belanja sekolah,” sambungnya.

Senada, Arif. Nama samaran. Ia mengaku harus membayar Rp 1,2 juta untuk membeli satu set seragam sekolah anaknya melalui koperasi sekolah.

“Kalau mau beli seragam, ya di koperasi sekolah. Satu setnya sampai Rp 1,2 juta,” ungkapnya.

Menurutnya, harga seragam sekolah untuk anaknya yang diterima melalui jalur afirmasi, terpaksa dipenuhi. Sebab, pihak sekolah tidak mengarahkan kepada seluruh murid agar keperluan sekolah dibeli melalui koperasi sekolah.

Jika seragam sekolah dibeli diluar, ia khawatir berdampak pada psikologi anaknya di sekolah. Karena, seluruh teman-temannya mengaku kalau membeli perlengkapan mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki di sekolah.

“Pertimbangannya kepada anak saya mas. Takut nanti malah mendapat tekanan dari pihak sekolah,” katanya.

Selain itu, ia mempertanyakan keberpihakan pemerintah daerah setempat terhadap siswa jalur afirmasi. Kenyataannya, siswa yang diterima melalui jalur afirmasi malah tidak mendapatkan kebijakan berupa keringanan harga atau digratiskan terutama bagi keperluan sekolah.

Ia berharap, pihak sekolah memprioritaskan terhadap siswa yang mendaftar melalui jalur afirmasi.

“Katanya kalau jalur afirmasi itu untuk siawa tidak mampu. Tapi kok kenyatannya untuk seragam sekolah kita masoh dimintai sampai jutaan rupiah,” tandasnya. (kub/gob)



loading...

Feeds

Rekom Sutriyono Masih Bisa Dievaluasi

Rekom Sutriyono Masih Bisa Dievaluasi

REKOMENDASI Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS) terhadap anggota Komisi IV DPR RI, Sutriyono masih dapat dievaluasi. Demikian …