Lho Kok… Sejumlah Siswa SMAN 18 Bekasi Belajar di Lantai?

Sejumlah siswa dan siswi di SMAN XVIII Kota Bekasi belajar tanpa bangku dan meja. Sebanyak empat kelas IPA di sekolah ini belum memiliki bangku dan meja. (Foto: Radar Bekasi)

Sejumlah siswa dan siswi di SMAN XVIII Kota Bekasi belajar tanpa bangku dan meja. Sebanyak empat kelas IPA di sekolah ini belum memiliki bangku dan meja. (Foto: Radar Bekasi)

RATUSAN siswa SMAN XVIII terpaksa belajar dalam kondisi memprihatinkan. Dari 216 siswa di sekolah tersebut, sebanyak 144 siswa harus duduk melantai lantaran tak ada kursi dan meja belajar di ruang kelas mereka. Kondisi tersebut dialami para siswa kelas X. Sedikitnya ada empat kelas yang mengalami kondisi serupa.

Belajar dalam suasana begitu dirasakan para siswa sangat tidak kondusif. Seperti yang dilontarkan Ketua Kelas XI IPA I Radu Ginting. Remaja usia 15 tahun ini mengeluhkan ketidaknyamanan aktivitas belajar mengajar di ruang kelasnya.

“Karena sekolah dan kelasnya ini kan masih baru. Ya kitanya pun baru ada. Jadi kaya kurang nyaman aja gitu. Kalau bisa beberapa bulan ke depan itu sudah ada kursi sama meja,” keluhnya.

Ia mengungkapkan, terkadang kakinya mengalami keram karena harus belajar dalam kondisi kaki berlipat di lantai. Kegiatan belajar mengajar di sekolah ini berlangsung hingga pukul 15.30. Baru-baru ini suasana gerah di dalam kelas sedikit terobati lantaran sudah ada kipas sejak dua hari yang lalu.

“Dijanjikan ada (mebeler oleh pihak sekolah), tapi nanti bulan Januari. Mereka (pihak sekolah) nggak punya alasan bakunya sih. Yang mereka bilang ya kita nunggu bantuan dari pemerintah aja,” ungkapnya.

Dari awal masuk di sekolah tersebut, memang sudah tidak ada mebeler. “Karpet pun sebenarnya bukan buat kelas, buat acara gitu tapi kita pakai,” sambungnya.

Anak laki – laki itu mengaku baru tahu kalau sekolah tersebut tidak memiliki kursi dan meja setelah masuk dan mulai proses kegiatan belajar mengajar (KBM).

“Sebelumnya nggak tahu. Kalau dibilang kecewa, kecewa sih. Namanya sekolah baru kita maklumi sih,” tambahnya.

Murid lainnya, Niluh Putu Astini (15) mengaku tetap nyaman menjalani aktivitas KBM tanpa adanya mebeler. “Biasa aja sih soalnya ini masih sekolah baru, not bad lah. Daripada kita numpang di SD, nanti juga akan dapat juga,” ucapnya.

Tanpa mebeler, kata dia, siswa di kelas lebih berbaur ke teman – teman lainnya. “Kalau pakai bangku kan kelompok – kelompok gitu,” tambahnya.

Soal bulan Januari akan ada mebeler, menurutnya terlalu lama. Ia khawatir jika dalam ujian semester masih belum ada mebeler. “Terlalu lama sih kayanya, berarti itu kan sudah masuk ujian semester. Nanti gimana pas semesteran?,” ujarnya.

Wakil Urusan Sarana Prasarana SMA XVIII Elfi Suyanti mengatakan, mebeler tersebut memang sudah tidak ada dari awal siswa kelas X masuk sekolah.

“Memang dari awal, saya juga sudah sampaikan ke orang tua murid yang baru daftar ke SMA 18 kemungkinan nanti nggak ada meja dan kursi,” ujarnya.

Saat ini, ia mengaku kekurangan 18 lokal kelas dan pagar sekolah. Dirinya pun telah mengajukan ke berbagai pihak untuk menunjang kebutuhan sekolah.

“Kalau kita minggu ini minta supaya segera ada ya. Bagaimanapun caranya, misalnya mengajukan proposal, saya akan bersedia mengajukan proposal. Karena saya sudah mengajukan proposal juga ke provinsi, ke CSR – CSR, ke kementrian,” tutupnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi Ali Fauzie mengatakan, terkait dengan mebeler merupakan kewenangan dari Pemprov Jabar. Hal itu menyusul telah dialihkannya wewenang tingkat SMA dan SMK dari Kota Kabupaten ke Provinsi.

“Sekarang ini terkait kebutuhan perangkat sekolah itu kan jadi kewenangan provinsi. Kita kan 2017 ini sudah tidak menganggarkan kebutuhan mebeler di SMA. Walaupun sebetulnya itu masih aset daerah. Yang ada aja yang dia pakai itu menjadi aset daerah. Sekarang tinggal ditanya aja ke pihak provinsi,” paparnya.

(neo/pj/gob)



loading...

Feeds