Kisah Haikal, Bocah Penderita Gizi Buruk Asal Setu yang Luput dari Perhatian Pemerintah

Haikal (6) dilarikan ke RSUD Kota Bekasi untuk mendapat perawatan medis, Senin (24/7). Bocah penderita gizi buruk ini dibawa ke rumah sakit oleh relawan. Foto:Raiza/Radar Bekasi

Haikal (6) dilarikan ke RSUD Kota Bekasi untuk mendapat perawatan medis, Senin (24/7). Bocah penderita gizi buruk ini dibawa ke rumah sakit oleh relawan. Foto:Raiza/Radar Bekasi

BIDANG kesehatan menjadi salah satu prioritas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi. Tapi buktinya, masih ada anak gizi buruk yang luput dari perhatian pemerintah daerah.

Adalah Haikal Febrian (6). Warga Desa Cijengkol RT02/04, Kecamatan Setu ini tubuhnya kurus kering. Hasil timbangan, berat badannya hanya enam kilogram.

Haikal tidak seperti anak seusianya yang sudah mengeyam pendidikan di bangku sekolah dan bermain dengan teman-teman. Setiap harinya, ia hanya tergolek lemas di kasur. Ia tidak bisa berjalan karena kakinya tidak sanggup menopang badannya yang kurus.

Bocah malang ini setiap harinya diurus oleh kakek dan neneknya. Karena kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Ayahnya, Nursin, meninggal karena penyakit meningitis dua tahun lalu. Sedangkan ibunya meninggal tiga bulan yang lalu.

Jika bosan di kasur, Haikal digendong oleh neneknya. Terkadang ia menangis karena tubuhnya yang tidak bisa bergerak seperti anak pada umumnya.

Kakek Haikal, Guteng (76), mengatakan berat badan cucunya mulai menurun sejak menginjak usia empat tahun. Sejak lahir Haikal memang sulit makan dan hanya diberi asupan berupa susu oleh orang tuanya.

“Kalau dikasih nasi sering nangis, maunya makan mi instan sama susu, ada nasi di piring Haikal nggak mau makan,” kata Guteng kepada Radar Bekasi ditemui di kediamannya, Senin (24/7/2017).

“Kalau sekarang yang ngurus neneknya, tapi kalau neneknya pergi mulung ya kita gantian ngurusin Haikal,” ucapnya.

Sejak kecil tubuh Haikal sering panas meski tidak lama. Ketika usia empat tahun, hasil diagnose rumah sakit dikatakan ada flek dalam paru-paru bocah malang tersebut

Setiap hari Haikal tidak mau makan dan hanya mau minum susu kemasan serta makanan ringan. Meski sudah dibujuk, tetap saja bocah yatim piatu ini tidak mau makan.

“Kita sudah kasih makanan lain kayak lontong atau bubur tapi nggak mau, maunya makanan kering aja kayak keripik terus minumnya susu kotak, kalau nggak dikasih nangis terus badannya makin kurus,” kata Guteng.

Haikal pernah dibawa ke rumah sakit swasta di Kecamatan Setu. Ia kemudian dirujuk ke RSUD Kabupaten Bekasi karena keterbatasan peralatan. Di RSUD, ia hanya dirawat selama 11 hari dan disarankan dokter berobat jalan.

“Sebenarnya sekarang juga masih berobat jalan dan pantau bidan desa yang sering memberikan obat flek paru-paru ke Haikal,” katanya.

Guteng san istrinya hanya bekerja sebagai pengepul barang bekas dari tumpukan sampah. Setiap hari kakek nenek Haikal ini mencari botol dan barang bekas di setiap perumahan dan kampung-kampung.

“Botol-botol ini nanti ada yang membeli, sehari bisa kantongi Rp100 ribu, ya memang ini sudah profesi keluarga sejak lama,” kata Guteng.



loading...

Feeds

20171121_095837

Kenangan Terakhir dengan Laila Sari

MASIH belum hilang kenangan terakhir Darsih bersama kakaknya, almarhumah Laila Sari. Terlebih, sebelum sang kakak mengembuskan nafas terakhirnya, dia masih …
PPP Tetap Komit Dukung Rahmat Effendi

Sholihin Kokoh Didukungan 17 Kursi

KETUA DPC PPP Kota Bekasi, Sholihin mendapat dukungan lima partai untuk maju pada Pilkada Kota Bekasi 2018 mendatang. Partai-partai tersebut …
JPNN

Shireen Sungkar Minta Doa Masyarakat

PASANGAN artis Shireen Sungkardan Teuku Wisnu belum lama ini merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang keempat. Di momen spesial ini, …