Rahmat Effendi Diminta Waspadai KMP di Pilkada 2018

PKS dan Gerindra Kota Bekasi beberapa waktu lalu telah menekan kesepakatan koalisi untuk Pilkada Kota Bekasi 2018 mendatang. Hal tersebut membuat Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi yang bertengger di puncak popularitas dan elektabilitas, perlu membuat perhitungan ulang.

Koalisi dua parpol itu memang belum memutuskan kandidat yang akan diusung, tapi di internal PKS dan Gerindra telah menyiapkan sejumlah nama. Baik hasil dari penjaringan masing – masing internal partai, atau bisa ada kejutan muncul diakhir – akhir pendaftaran pasangan calon di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Gerindra banyak kader internal yang berpotensi diusung. Termasuk nama nama yang ikut penjaringan,” ujar Ketua DPC Gerindra Kota Bekasi, Ibnu Hajar Tanjung.

Ia meyakini, koalisi Gerindra dengan PKS akan mampu menjadi kekuatan besar pada Pilkada mendatang. Termasuk jika harus berhadapan dengan calon patahan sekelas Rahmat Effendi.

Sementara, Ketua PKS Kota Bekasi, Heri Koeswara mengatakan, ada syarat utama yang harus dipenuhi partai politik untuk mengusung pasangan calon, yaitu terpenuhinya jumlah kursi di DPRD. Peraturan KPU Nomor 9/2016 mensyaratkan paling sedikit 20 persen di DPRD.

Dari jumlah kursi itu, koalisi Gerindra dan PKS sudah memenuhi syarat untuk mengusung pasangan calon. Sementara Golkar yang mengusung Rahmat Effendi hanya punya delapan kursi, sehingga harus mencari parpol lain agar terpenuhi 10 kursi. “Yang pasti secara persyaratan, kursi koalisi PKS dan Gerindra sudah memenuhi syarat dengan total 13 kursi,” tutur pria yang akrab disapa Herkos ini.

Adapun dari hasil semua survei, Ahmad Syaikhu menjadi kandidat paling mungkin mengalahkan Rahmat Effendi dari sisi elektabilitas.

Pengamat Politik dan Praktisi Pilkada, Jiwang Jiputro menilai, posisi Rahmat Effendi belum aman. Ada beberapa faktor. Pertama, jadwal Pilkada Kota Bekasi yang masih menyisakan satu tahun lagi. Kedua, tingkat kemantapan pilihan masih rendah. Ketiga, dinamika isu yang akan terus bergulir, dan keempat undecided voters atau pemilih yang belum menentukan pilihan masih relatif tinggi.

“Artinya, potensi terjadinya peralihan dukungan publik dari yang semula memilih Rahmat Effendi, bias berubah menjadi pemilih dengan kandidat yang lain sangat mungkin terjadi,” jelasnya.

Lanjut Jiwang, dalam survei Poltracking, responden yang sudah mantap dengan pilihan, baru 25,50 persen dan yang masih akan berubah 51,63 persen. “Data ini menunjukkan tren perilaku memilih di Kota Bekasi, bahkan Jawa Barat masih sangat fluktuatif,” bebernya.

Menurut Jiwang, untuk Pilkada Kota Bekasi, semua sedang menunggu siapa pasangan yang akan diusung dari KMP. Karena, diyakini KMP yang menjadi momok menakutkan untuk petahana, Rahmat Effendi. “Dengan berkoalisinya PKS dan Gerindra, saya lihat menjadi sebuah kewaspadaan untuk Rahmat Effendi,” pungkasnya. (sar/pj/gob)



loading...

Feeds