Pentolan ISIS Punya Istri di Bekasi

OMAR Khayam alias Omar Maute disebut-sebut media asing sebagai salah satu pentolan kelompok Maute yang berafiliasi kepada Islamic State Irak and Syiria (ISIS) dan menyerang Kota Marawi, Filipina pertengahan Juni lalu. T

Pentolan ISIS Filipina itu ternyata pernah bermukim di Babelan, Kabupaten Bekasi dan menikahi Minhati Madrais, salah satu putri pendiri Pesantren Darul Amal, Kp Buni Bakti, Babelan. Apa komentar keluarga besar?

Ditemui Radar Bekasi (Group GoBekasi) pada Jumat lalu, keluarga besar KH Madrais itu tampaknya kecewa besar terhadap Omar. Mereka juga tampak syok, salah satu menantu pendiri pesantren itu justru terlibat aksi kekerasan di Filipina.

Ade Syuhadi (51), salah satu anggota keluarga besar KH Madrais menuturkan kekecewan keluarganya terhadap Omar. Mereka tak menyangka Omar serta Minhati yang berpamitan ke Filipina pada tahun 2011, kini justru menimbulkan ‘aib’ keluarga besar. Padahal, orangtua Minhati, yaitu Kiai Madrais sudah meminta Omar jangan pulang kampung ke Filipina.

”Mang Aji (sapaan untuk KH Madrais) sudah meminta Omar untuk bermukim di sini saja (Babelan, Red). Itu kesepakatan saat Omar mau menikahi Minhati,’’ cerita Ade saat disambangi Radar Bekasi di Kampung Buni Bakti RT14/08, Desa Buni Bakti, Babelan.

Saat itu, sambung Ade, lantaran keinginan Omar begitu keras untuk memboyong Minhati beserta dua orang putrinya untuk ke Filipina, Kiai Madrais pun dengan berat hati mengizinkannya. Kini, Minhati sudah memiliki lima anak.

”Sebenarnya keluarga besar sudah mewanti-wanti Omar dan Minhati supaya bermukim disini saja, karena orang tuanya sebagai pimpinan pondok pesantren Darul Amal berharap bisa meneruskan untuk mengimplementasikan ilmunya di pesantren yang digagas mang Aji (sebutan KH Madrais),” beber Ade panjang lebar.

Ade mengisahkan, yang lebih mengecewakan keluarga besar, sejak kepergiaan Omar dan Minhati pada akhir tahun 2011. Pihak keluarga tidak ada yang bisa berkomunikasi dengan mereka.

”Kita sangat kaget, sejak pergi tidak ada kabar. Lalu dapat kabarnya tiba-tiba dari media. Itulah yang membuat mang Aji syok, dan keluarga dikumpulkan, dan saya diamanahkan untuk menjelaskan tentang Omar dan Minhati,” katanya.

Menurutnya, Omar ketika bermukim bersama keluarganya merupakan sosok pria, mantu dan suami yang bertanggungjawab, serta rajin ibadahnya. Kata dia, saat bermukim Omar bersama Minhati bertempat tinggal di asrama putri Pondok Pesantren Darul Amal.

”Dia kan (Omar dan Minhati) datang ke sini awal tahun 2011. Pamit ke Filipina akhir tahun 2011. Jadi tidak sampai setahun, dan disini juga belum menjadi bagian dari guru pondok pesantren pimpinan mang Aji,” katanya.

Omar memiliki kelebihan Bahasa Inggris dan bisa berbahasa Indonesia meskipun tidak terlalu lancar. Dengan kelebihan berbahasanya itu, Omar lantas diberi kepercayaan untuk membuka les privat bahasa Inggris.

”Di sini dia tidak ngajar di pesantren, tapi hanya sebagai guru les privat,”ujarnya. Sambung Ade, sebenarnya keluarga besar sangat berharap banyak kepada Omar dan Minhati lantaran lulusan Mesir yang sangat paham betul tentang keagamaan, namun tuhan berkendak lain.

”Maka dari itu saat Omar berpamitan untuk kembali ke Filipina Mang Aji beserta keluarga begitu kecewa. Lantaran sebagai orang tua yang sudah menyekolahkan buah hatinya tidak ingin jauh,” katanya.

Saat Radar Bekasi mempertanyakan, apakah Omar pernah memberikan ilmu tentang kejihadan ataupun radikalisme. Ade mengatakan, sama sekali dia (Omar) tidak pernah memberikan masalah pengetahuan tersebut.

”Disini banyak kiyai dan ustad. Jadi sama sekali tidak ada yang mengajarkan Islam garis keras ataupun radikalisme, karena masyarakat di sini sangat mencintai kedamaian,” katanya panjang lebar.

Setelah berpamitan dan meninggalkan keluarga besar, kata Ade, Omar memboyong seluruh keluarganya (Minhati) beserta dua orang putrinya.

”Karena kami sudah lama putus kontak, jadi sama sekali tidak mengetahuinya kalau aktifitas Omar menentang pemerintahan Filipina. Bahkan saat ini anaknya sudah lima kami juga tahunya dari media sosial,” terangnya.

Sementara itu salah satu tetangga Minhati, Nur Nur Ali (48) mengatakan, Minhati merupakan sosok wanita yang tidak terlalu dikenal masyarakat sekitar, kata dia yang mengenal Minhati hanyalah orang-orang asli keturunan Kampung Buni Bakti.

”Minhati di sini ketika masih SD saja, karena pas SMP dan SMA dikirim ke Pesantren Gontor sama ayahnya, dan dilanjutkan ke Qairo, Mesir. Jadi yang kenal hanya orang-orang tertentu,” ujarnya saat ditemui di Masjid Darul Amal yang berhadapan dengan kediaman KH Mardrais.

Pria yang juga sebagai anggota DKM Masjid Darul Amal ini mengisahkan, ketika Omar bermukim di lingkungannnya, tidak banyak berkomunikasi dengan warga sekitar.

”Kami tidak ada yang mengenal, paling keluarga besarnya saja. Sebab kita tahunya juga ketika ramai-ramai dari media,” singkatnya. (and/pj/gob)



loading...

Feeds

3K jadi Solusi Atasi Alergi Anak

3K Jadi Solusi Atasi Alergi Anak

ORANGTUA wajib tahu, alergi pada anak merupakan gangguan yang tidak boleh diabaikan. Sebab, bisa berakibat sangat fatal. Hal itulah yang …