Begini Kronologis Lengkap Preman Pondok Melati Bunuh Tetanggnya karena Suara Knalpot

Wakapolres Metro Bekasi Kota, AKBP Wijonarko (memegang barang bukti golok), Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota (kemeja warna puti) saat menggelar Konferensi Pers terkait pembacokan yang dilakukan oleh Preman Pondok Melati kepada tetangganya, Senin (19/6/2017). Foto: Istimewa/GoBekasi

Wakapolres Metro Bekasi Kota, AKBP Wijonarko (memegang barang bukti golok), Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota (kemeja warna puti) saat menggelar Konferensi Pers terkait pembacokan yang dilakukan oleh Preman Pondok Melati kepada tetangganya, Senin (19/6/2017). Foto: Istimewa/GoBekasi

POLRES Metropolitan Bekasi Kota, menggelar konferensi pers terkait kasus preman Pondok Melati, Felix William Tuilan (42) yang membunuh tetangganya sendiri atas nama Deni Andhala, pada Minggu (19/6/2017) kemarin.

Wakil Kepala Polres Metro Bekasi Kota, AKBP Wijonarko, menjelaskan bahwa kronologis awal terjadinya pembunuhan yang dilakukan oleh tersangka Felix terhadap tetanggnya ketika tidak terima ditegur masalah suara bising knalpotnya.

Saat itu waktu menunjuk pada pukul 16.30 WIB, tersangka Felix melintas mengendarai sepeda motor dengan suara knalpot yang bising. Di depan korban, tersangka dengan sengaja menggeber motornya sehingga mengganggu kenyamanan warga.

Disaat itu, korban lalu menegur tersangka kalau apa yang telah dilakukannya itu sangat mengganggu. Ternyata, tersangka tidak terima atas teguran yang dilakukan oleh korban.

Baca Juga: Sadis! Tidak Terima Ditegur Soal Suara Knalpot, Pemotor Bacok Warga Pondokmelati Hingga Tewas

“Mereka berdua sempat bertikai, namun tidak lama kemudian pertikaian antara pelaku dan korban berhasil dilerai oleh warga,” kata Wijonarko kepada awak media.

“Pelaku ini masih tetangga korban Deni. Rumah korban dan pelaku masih cukup dekat, korban tinggal di rumah nomor 15, dan pelaku di nomor 25 RT 05 RW 09 Perumahan Kologad Jatirahayu,” sambung dia.

Setelah perkelahian pertama itu, pelaku kemudian pergi menuju Pasar Kramatjati untuk membeli sebuah golok dengan gagang kayu berwarna cokelat.

Golok tersebut diikatkan pada bagian lampu depan sepeda motor tersangka. Setiba di perumahannya, dan tersangka kembali menantang korban untuk berkelahi pada pukul 19.30 WIB.

“Korban kemudian mendatangi tersangka sambil membawa besi dan perkelahian kembali terjadi. Bahkan, korban sempat mengayunkan besi kepada pelaku,” tambahnya.

Tetapi, kata Wijonarko, ayunan besi tersebut berhasil dihindari, sementara tersangka berhasil menyabetkan golok ke bagian ketiak sebelah kiri korban yang berusaha menangkis bacokan.

Akibatnya, korban mengalami luka sabetan golok selebar 30 sentimeter pada bagian ketiak. Mengalami luka serius ini, korban berusaha melarikan diri.

Baca Juga: Polisi: Pelaku Pembacokan di Pondokmelati Kerap Bikin Onar

Tetapi naas, tersangka kembali menyabetkan goloknya dan mengenai bagian pinggang sebelah kanan korban dan akibatkan luka 15 sentimeter.

“Korban sempat dilarikan ke rumah sakit Mas Mitra tetapi meninggal dunia saat di perjalanan,” kata Wijanarko.

Mendapat laporan dari warga mengenai kasus perkelahian antar tetangga ini, polisi kemudian bergerak cepat dan menangkap pelaku di rumahnya.

Polisi juga mengamankan barang bukti berupa sebilah golok, baju dan celana tersangka, dan satu unit sepeda motor Honda GL 160 dengan nomor polisi B 6608 KOE beserta STNK.

“Tersangka dijerat dengan pasal 338 atau 251 KUHP dengan ancaman penjara seumur hidup atau paling sedikit 12 tahun,” tandas dia. (kub/gob)



loading...

Feeds