Belasan Dokter RSUD Kota Bekasi Dapat SP-3

RSUD Kota Bekasi. Foto: Dokumentasi/GoBekasi

RSUD Kota Bekasi. Foto: Dokumentasi/GoBekasi

BELASAN Dokter praktek di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi terancam mendapat Surat Peringatan yang ke tiga (SP-3) dari jajaran direksi.

Hal itu menyusul temuan Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, saat melakukan sidak kelokasi tersebut. Belasan dokter tidak berada di ruangan praktek, padahal pelayanan seharusnya sudah dimulai.

Dari puluhan ruangan dokter praktek, hanya satu dokter yang sudah melakukan pelayanan. Padahal saat itu, ratusan pasien terpaksa mengantri di depan beberapa ruang praktek doktek spesialis di RSUD Kota Bekasi, sejak pagi.

Para pasien tersebut mengeluh adanya keterlambatan jadwal praktek. Padahal, dari papan informasi yang terpampang, rata-rata dokter spesialis harus memulai praktek pukul 08.00 pagi.

Salah satu pasien, Muhajir (62), warga Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medansatria mengaku, dirinya sudah datang ke RSUD Kota Bekasi sehabis Shubuh. Setelah mendapatkan nomor antrian Ia pun langsung menunggu di ruang tunggu dekat poli yang hendak dituju.

“Saya mau ke poli ortopedi, check up rutin. Namun sejak pagi tadi dokternya belum datang,” ungkap Muhajir.

Menurut Muhajir, hal seperti ini kerap terjadi tiap kali ia melakukan pemeriksaan. Dokter yang seharusnya dijadwalkan praktek sejak pukul 08.00 pagi, hingga pukul 09.00 lewat belum tiba. Padahal, kata dia, mayoritas pasien sudah datang sejak pagi buta untuk seekdar mengambil nomor antrean.

“Seperti saya contohnya, sehabis subuh sudah jalan dari rumah ke RSUD, demi mendapat nomor antrean urutan depan,” kata dia.

Pasien lainnya, Rohimah (58), warga Jalan Cendana Raya, Kecamatan Bekasi Barat pun mengungkapkan hal serupa. Saking lamanya menunggu ia kerap ketiduran diruang tunggu.

“Kita nunggunya bisa berjam-jam, tapi kalau periksa biasa engga sampai 30 menit sudah selesai,” kata dia.

Karena itu, lanjut Rohimah, dirinya berharap perilaku dokter prakter di RSUD bisa lebih diperhatikan oleh direksi RSUD. Agar pasien tidak dirugikan atas lamanya jadwal praktek dimulai.

Sebab, menurut dia, sebagan besar pasien kurang mampu pengguna BPJS Kesehatan mengandalkan RSUD sebagai tempat berobat penyakit kronis yang mereka derita.

“Semoga hal ini bisa dibenahi, jangan sampai ke depannya dokter bisa lebih siang lagi memulai praktek,” lanjut dia.

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menyampaikan, pihaknya bakal melakukan pemeriksaan khusus (riksus) atas kejadian terlambatnya para dokter praktek di RSUD Kota Bekasi. Bahkan, dirinya mengancam akan memecat dokter praktek non-PNS yang terlambat melakukan praktek.

“Kalau yang PNS berikan SP, kalau berulang langsung SP-3, kalau bukan PNS langsung pecat saja,” tegas Kepala Daerah Kota Bekasi ini.

Menurut Rahmat, tahun ini pihaknya sudah menaikan tunjangan daerah yang diterima tiap pegawai di lingkup Pemkot Bekasi sebanyak 60 persen. Harapannya adalah, ketika kesejahteraan aparatur meningkat, maka harusnya diimbagi dengan kinerja yang lebih baik. Apalagi, ketika Ia menyambangi RSUD langsung pada Selasa (13/6/2017) lalu tidak hanya dokter yang terlambat melakukan praktek, namun jajaran direksi RSUD juga tidak lengkap.

“Di RSUD bukan lagi membicarakan kantong pegawai lagi, namun sudah membicarakan nyawa warga yang sedang berobat. Jadi dokter jangan main-main,” tandasnya.

 

(sar/pj/gob)



loading...

Feeds