Pelajar Harus Melek Politik

anggota Fraksi Demokrat DPR RI, Hari Kartana saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar di SMK Putra Bangsa, Cibening Setu, Kabupaten Bekasi. Foto: istimewa/GoBekasi

anggota Fraksi Demokrat DPR RI, Hari Kartana saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar di SMK Putra Bangsa, Cibening Setu, Kabupaten Bekasi. Foto: istimewa/GoBekasi

PELAJAR harus memiliki kepekaan dan kecerdasan atau terhadap politik. Jiwa nasionalisme hanya dapat dipupuk jika memiliki kepedulian yang tinggi terhadap politik. Tidak hanya cerdas ilmu, pelajar juga harus melek politik.

Hal itu dikatakan anggota Fraksi Demokrat DPR RI, Hari Kartana saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar di SMK Putra Bangsa, Cibening Setu, Kabupaten Bekasi.

Empat Pilar tersebut yaitu Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dirinya mengatakan, pendidikan politik harus diberikan kepada setiap warga negara, tidak terkecuali pelajar. Karena kaum pelajar merupakan generasi muda bangsa yang di pundaknya masa depan bangsa tertumpu.

Memberikan kesadaran politik melalui pendidikan politik bukanlah bentuk politisasi pelajar.

“Pendidikan politik bukan bentuk politisasi. Tugas utama pelajar ya belajar, meraih prestasi sebanyak-banyaknya. Sementara kesadaran dan kepedulian terhadap negara adalah kewajiban. Kesadaran dan kepedulian yang tinggi terhadap negara hanya bisa didapat melalui pendidikan politik yang benar,” ujarnya.

Anggota Komisi II DPR RI ini melihat, masih banyak pelajar yang kurang peduli bahkan antipati terhadap politik karena kesalahpahaman terhadap substansi dari politik.

Padahal menurutnya, bangsa Indonesia tidak mungkin meraih kemerdekaan dari penjajah jika kaum muda pada tahun 1945 tidak memiliki kepekaan terhadap dinamika politik yang berkembang.

Baca Juga: 4 Perampok Spesialis Nasabah Bank di Cikarang Diringkus

Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, Dirinya menambahkan, sarat dengan konstribusi kaum muda terpelajar. Mulai dari periode 1908, 1928, 1945 hingga reformasi 1998 lalu.

“Sayangnya hari ini, politik diasosiasikan dengan konteks sempit seperti sebatas partai dan parlemen, korupsi, demonstrasi atau rebutan jabatan. Padahal politik lebih luas dan mulia dari itu semua, tentang kebijakan publik dan kesejahteraan,” jelasnya.

Lebih lanjut Ia mengatakan, pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang diberikan di sekolah-sekolah, sebagaimana Empat Pilar, adalah bagian dari pendidikan politik.

Para guru menurutnya, juga harus menyelipkan pendidikan politik dan wawasan kebangsaan yang benar kepada siswa dalam setiap mata pelajaran di kelas.

Hasil yang ingin dicapai, tumbuhnya jiwa nasionalisme dan membela yang kuat terhadap negara dan bangsanya dalam segala aspek. Bukan sebatas semangat membela pemerintahnya meski berbuat salah.

“Tapi membela Tanah Air. Selipkan pendidikan politik dalam tiap pelajaran. Misal ketika mempelajari geografi, bagaimana bisa tumbuh nasionalisme mempertahankan kedaulatan bangsa di lautan dan daratan serta kekayaan yang dikandungnya dari upaya penjajahan baru asing,” tandas dia. (kub/gob)



loading...

Feeds