Politik Identitas Ungguli 2 Kali Pilpres

CELUP JARI : Warga Desa Babelan Kota memberikan suaranya di pilkades pada Minggu (10/5) lalu. Namun dari pelaksanaan pesta demokrasi tingkat desa itu, tumpukan sampah terlihat di lapangan yang digunakan sebagai tempat pemungutan suara. PUTRI/ILUSTRASI/RADAR BEKASI

CELUP JARI : Warga Desa Babelan Kota memberikan suaranya di pilkades pada Minggu (10/5) lalu. Namun dari pelaksanaan pesta demokrasi tingkat desa itu, tumpukan sampah terlihat di lapangan yang digunakan sebagai tempat pemungutan suara. PUTRI/ILUSTRASI/RADAR BEKASI

MASYARAKAT Indonesia pada umumnya memiliki kecenderungan memilih figur calon presiden (capres) yang merakyat.

Menurut Dosen Sosiologi Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sudjito, hal tersebut sangat jelas terlihat pada pemilu sebelumnya.

Namun apakah hal tersebut masih berlaku di Pemilihan Presiden 2019 mendatang? Arie meragukannya. Karena beberapa waktu belakangan, muncul politik identitas. Seperti yang terlihat pada Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu.

“Saya kira (memilih figur merakyat,red) terlihat sebelum ada ketegangan politik dengan munculnya politik identitas. Nanti akan bercecer lagi, tergantung cuaca politik. Tapi pola-pola lama masih tampak,” ujar Arie pada JPNN, Selasa (30/5).

Menurut Arie, menguatnya politik identitas akhir-akhir ini menjadi bukti sulitnya membaca arah politik untuk mengukur keterpilihan pemimpin pada Pilpres 2019 mendatang.

Apalagi ada kecenderungan sosok yang terpilih merupakan figur yang muncul tiba-tiba. Seperti yang terlihat pada Pilpres 2004 dan 2014 lalu.

“Kemunculan Susilo Bambang Yudhoyono dulu (Pilpres 2004,red) kan tiba-tiba. Demikian juga dengan kemunculan Jokowi. Sementara Prabowo, sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari, tapi tetap kalah,” pungkas Arie. (gir/jpnn/gob)



loading...

Feeds