Terorisme dan Gangguan Psikologis

(Ilustrasi) Salah seorang terduga teroris yang masih hidup menyandra seorang polisi wanita, sementara seorang terduga teroris telah tewas diterjang timah panas Tim Anti Teror Polresta Bekasi Kabupaten, Jumat (19/2/2016) (Foto: Andi Saddam Husein/GoBekasi)

(Ilustrasi) Salah seorang terduga teroris yang masih hidup menyandra seorang polisi wanita, sementara seorang terduga teroris telah tewas diterjang timah panas Tim Anti Teror Polresta Bekasi Kabupaten, Jumat (19/2/2016) (Foto: Andi Saddam Husein/GoBekasi)

TERORISME  merupakan tema yang banyak dibahas saat ini. Padahal, menurut Nalini, pemberitaan tersebut bisa menjadi racun buat pembacanya. Bahkan, hal tersebut bisa ”melancarkan’’ teroris mencapai tujuannya. Yakni, membuat masyarakat takut kepada kalangan atau kelompok yang dia pimpin. ”Isu terorisme dan kekerasan yang diberitakan tiap hari membuat masyarakat paranoid dan waswas. Tandanya, mereka berhasil,” kata Nalini.

Dia mencontohkan pemberitaan serangan teroris 11 September 2001 atau 9/11. Di Amerika Serikat, pemberitaan tersebut berlangsung hingga sebulan. Dampaknya, masyarakat terpengaruh. Kala itu masyarakat cenderung sedih dan dalam kondisi berkabung. Produktivitas menurun dan hampir seluruh sektor usaha lesu.

Pemberitaan kekerasan berkepanjangan juga membuat kepekaan mereka turun. Masyarakat menjadi kurang sensitif. ”Nah, inilah yang bisa menjadi bencana psikologis. Publik bisa jadi pro kekerasan. Lebih parah lagi jika kondisi psikologis tersebut lantas ditunggangi isu politik atau kebencian pada kalangan tertentu,” tuturnya.

Baca juga: Pelaku Bom Kampung Melayu dari Bekasi?

Penanganan psikologis korban terorisme, menurut Nalini, anak-anaklah yang perlu pendampingan khusus. ”Terutama yang tinggal di kawasan atau di dekat daerah serangan. Termasuk ketika ada kejadian bom di daerah Kampung Melayu itu,” paparnya.

Pendampingan psikolog bisa membantu si kecil pulih dari traumanya. Lewat ajakan mengobrol santai dan kegiatan bersama, anak-anak akan merasa santai dan nyaman di lingkungannya. Panggung hiburan atau permainan juga bisa dilakukan untuk mengalihkan perhatian mereka. ”Sebenarnya, orang dewasa juga perlu mendapatkan pendampingan serupa. Sebab, berduka atau ketakutan pun ada batas waktunya,”jelas istri dari seorang dokter tersebut.

Untuk jangka panjangnya, Nalini menjelaskan, masyarakat perlu mempererat kohesi sosial. Dalam satu kawasan, baik RT maupun RW, hendaknya warga saling mengenal satu sama lain. Koneksi itu membuat setiap orang merasa terhubung sehingga rasa keamanan pun meningkat. ”Setiap orang akan merasa dikelilingi, dicintai, dan diterima. Kecurigaan atau rasa waswas pun bisa diminimalkan,” tandasnya. (fam/c25/ayi/gob)



loading...

Feeds

(Ilustrasi) Truk sampah milik DKI Jakarta yang rusak dilempar batu. (Foto: Ist)

Lagi, Truk Sampah DKI Dihujani Batu

UNTUK kesekian kalinya, truk sampah DKI Jakarta kembali diserang kelompok misterius di Jalan Raya Narogong. Namun pelemparan kaca truk sampah …