Gandeng AJI Jakarta, Himikom Unisma Bicara Kegaduhan Media Sosial

Acara seminar yang terselenggra di  Gedung 1 Unisma Bekasi, jalan Cut Meutia, Rawalumbu, Senin (23/5/2017). Foto: Mochamad Yacub Ardiansyah

Acara seminar yang terselenggra di Gedung 1 Unisma Bekasi, jalan Cut Meutia, Rawalumbu, Senin (23/5/2017). Foto: Mochamad Yacub Ardiansyah

HIMPUNAN Mahasiswa Ilmu Komunikasi (himikom), membahas kegaduhan media sosial belakangan pasca pesta demokrasi lima tahunan di DKI Jakarta belum lama ini.

Tetapi, mereka mengemas pembahasan dalam seminar tentang ‘citizen journalism’ di Gedung I Universitas Islam 45 (Unisma) di Jalan Cut Meutia, Rawalumbu, Selasa (23/5/2017).

Bahkan, untuk mengakuratkan fakta yang terjadi belakangan ini dipenjuru media sosial. Mereka menggandeng Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) DKI Jakarta, Ahmad Nurhasim, serta asisten koordinator liputan salah satu televisi nasional, Indri Astuti.

“Saya berharap, dengan adanya seminar ini, mampu menambah ilmu kita untuk bijak dalam mengelola media sosial di era informasi sekarang ini.” kata salah satu peserta mahasiswa, Firli Zikrillah di seminar dengan tema ‘The power of citizen journalism’.

Sementara, Indri Astuti, memaparkan sejatinya dalam mengemas suatu pemberitaan. Penulis atau wartawan dapat menerangkan secara rinci fakta kejadian yang berada di lapangan.

Baca Juga: Jelang Ramadhan, Waspadai Kolang-Kaling Berformalin

Semuanya, agar perspektif masyarakat yang berada di lokasi tempat kejadian perkara, tidak dibingungkan dengan opini si penulis sebelum terbit dalam suatu berita.

“Media cetak, radio, elektronik dan televisi. Semua diwajibkan dengan mengambil suatu berita dalam fakta yang ada tanpa mengada-ada. Jadi memang sanagat beda dengan jurnalisme warga,” kata Indri dalam pemaparan kepada para mahasiswa.

Belakangan, bila banyak ditemukan media mainstream yang tersebar di media sosial, sejatinya masyarakat dapat menganalisis isi pemberitaan. Sebab, banyak sudah media yang menyuguhkan dengan persepsi media itu sendiri atau berbentuk opini.

“Intinya kita harus menyuguhkan semuanya dengan fakta yang ada. Begitupun dengan televisi, banyak juga managemen televisi yang mengambil video dari masyarakat (video amatir). Namun kewajiban perusahaan tetap harus dijalankan,” terang dia.

Ahmad Nursahim, menambahkan, dalam mengelola media sosial. Masyarakat juga wajib bijak, tidak adanya provokasi yang menimbulkan gesekkan adalah hal yang utama.

Karena, sampai saat ini juga masih banyak oknum atau golongan yang menyebarkan pemberitaan palsu atau hoax melalui akun anonimitas di media sosial.

Dengan cepat, masyarakat dapat terdoktrinitas dalam sebuah isi berita atau cerita karangan yang tidak terjadi dilapangan atau sesuai fakta yang ada. Pikada DKI Jakarta adalah contoh utamanya.

“Dimulai dari diri kita sendiri harus bisa memilah mana berita benar, dan mana berita hoax. Dan masyarakat juga jangan asal share pemberitaan itu karena dapat berujung tindak pidana sebagaimana disebutkan dalam undang-undang IT,” kata dia.

Diinformasikan, seminar ini diikuti oleh berbagai mahasiswa Komunikasi dari berbagai kampus di wilayah Bekasi, diantaranya Universitas Tribuana, Universitas Satya Negara Indonesia, Universitas Bhayangkara, dan Universitas Bani Saleh. (kub/gob)



loading...

Feeds

Pentas seni di SMAN 12 Bekasi, Minggu (17/12/2017). (Foto: Ist)

Pensi SMAN 12 Bekasi Meriah

SMP Negeri 12 Kota Bekasi menyuguhkan kegiatan Fun Walk dan Pensi, kegiatan bertemakan asah-kreativitas ini merupakan bentuk apresiasi pihak sekolah …
Ilustrasi suspect difteri. (Foto: Ist)

Penderita Difteri di Kota Bekasi Bertambah

PENDERITA Difteri di Kota Bekasi bertambah. Sedikitnya 5 orang dinyatakan positif suspect penyakit mematikan itu. Kelimanya berada di sejumlah rumah …