300 Ribu Lebih Anak di Kabupaten Bekasi Belum Punya Akta Kelahiran

SEBANYAK 379.637 anak di Kabupaten Bekasi belum memiliki akta kelahiran. Minimnya kesadaran masyarakat dinilai menjadi faktor utama anak-anak tidak memiliki akta kelahiran.

Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bekasi, hingga Mei 2017 jumlah anak mencapai 712.160 jiwa. Dari jumlah tersebut, 53,31 persen di antaranya tidak mempunyai akta kelahiran. Sementara yang sudah memiliki akta hanya 332.523 anak atau 46,69 persen.

“Memang masih banyak orang tua yang tidak membuatkan anaknya akta kelahiran. Padahal berbagai kemudahan terus kami lakukan,” kata Kepala Disdukcapil Kabupaten Bekasi, Ali Syahbana kepada Radar Bekasi.

Dari ribuan anak yang belum memiliki akta kelahiran, paling banyak terdapat di Tambun Selatan, yakni sebanyak 64.074 orang. Sedangkan kecamatan terbanyak kedua yakni Babelan dengan jumlah 34.810. Anak yang belum memiliki akta berusia nol sampai 18 tahun.

Menurut Ali, kesadaran masyarakat Kabupaten Bekasi untuk tertib administrasi kependudukan masih minim.

“Jadi kan biasanya itu anak yang lahir belum punya nama. Paling cepat itu biasanya setelah tujuh hari baru diberi nama, biasanya setelah ada prosesi bubur merah dan bubur putih. Namun setelah itu masyarakat melupakan akta kelahiran anaknya. Hingga baru sadar kalau akta kelahiran itu penting saat anaknya mau masuk sekolah atau untuk urusan lain,” ungkapnya.

Kata Ali, akta kelahiran merupakan adimistrasi penting yang wajib diurus. Akta kelahiran merupakan salah satu syarat utama dalam berbagai hal, seperti masuk sekolah hingga perjalanan haji. Hanya saja, banyak masyarakat yang tidak menyadari itu sehingga akta kelahiran dilupakan.

Dalam beberapa kesempatan, lanjut Ali, instansinya kerap melayani pengajuan akta kelahiran bagi orang tua.

“Jadi bukan cuma anak, banyak yang sudah kakek nenek ternyata memang tidak punya akta kelahiran. Mereka akhirnya mengurus, biasanya untuk naik haji kan perlu. Itu bahkan ada yang umur 50 tahun lebih baru diurus,” katanya.

Proses pembuatan akta kelahiran kata Ali, terbilang mudah dan tanpa biaya. Orang tua hanya perlu melampirkan surat kelahiran dari rumah sakit atau bidan serta kartu keluarga. Prosesnya pun terbilang cepat, bahkan bisa diakses melalui internet.

“Jadi tinggal didaftarkan saja melalui online, nanti kami urus. Kemudian kan nanti pemohon datang ke kantor untuk menyampaikan persyaratannya terus aktanya tinggal diambil. Proses ini sudah berlangsung, tapi memang masih ada yang belum paham, maka kami juga harus jemput bola, pelayanan ke setiap desa. Prosesnya gratis, makanya harus diurus sendiri,” ungkapnya.

Sementara Hendri (26), warga Desa Pasirtanjung, Kecamatan Cikarang Pusat, mengeluhkan proses pembuatan akta kelahiran yang masih memakan waktu cukup lama. Dia mengaku harus menunggu tiga bulan hingga pembuatan akta selesai.

“Jadi anak tujuh hari langsung diajuin ke desa dibikin bareng sama kartu keluarga. Lumayan lama nunggu tiga bulan baru jadi,” katanya.

Saat itu Hendri mengaku harus membayar jasa pembuatan Kartu Keluarga dan akta kelahiran sebesar Rp 350 ribu.

Sedangkan Fajar (36), warga Desa Cikarang Kota, Kecamatan Cikarang Utara, mengaku tidak mengeluarkan biaya sepeser pun untuk pembuatan akta kelahiran. Padahal dokumen kependudukan itu dia urus sendiri ke Disdukcapil.

“Saya langsung ke Disdukcapil karena memang ada yang kenal, tidak bayar. Sehari langsung jadi. Tapi yang lain katanya ada yang dua minggu, standarnya,” ucapnya.

(dho/pj/gob)



loading...

Feeds