Kartu Jomblo Bekasi, Perlukah?

NOVIA, salah satu pegawai di lingkungan Pemkab Bekasi masih pikir-pikir untuk meresmikan hubungannya ke jenjang pernikahan dengan pria yang sudah mengisi hatinya sejak dua tahun lalu.

Perempuan berusia 27 tahun itu mengaku, salah satu faktor yang membuat hubungannya tertunda ke pelaminan, karena masalah biaya pernikahan. Dia tak ingin pesta pernikahan tidak meninggalkan kesan. Sayangnya, ongkos ke sana terlampau tinggi baginya dan pasangannya.

’’Sekarang resepsi (pesta pernikahan, red) itu jadi gaya hidup. Dan kami inginnya praktis. Menggunakan jasa event organizer (EO), menyewa gedung, dan memesan makanan catering,’’ ungkapnya.

Baca: Supir Angkot di Bekasi Keluhkan Praktik Percaloan pada Uji KIR

Besarnya biaya resepsi pernikahan dengan jasa EO dan menyewa gedung pernikahan, Novia dan pasangannya mengaku harus realistis. Dia pun rela menunggu pernikahan ala ‘Cinderella’ setelah pundi-pundinya terkumpul.

’’Sekarang mah mending nabung aja dulu lah,’’ tandasnya.

Lain lagi Lilis (27). Buruh pabrik ini mengaku, hasratnya untuk naik pelaminan sudah menggebu-gebu. Tapi, lagi-lagi keingginannya harus ditunda sementara lantaran biaya pernikahan yang selangit.

”Kalau hasrat menikah sih sudah ada. Tapi karena memang belum ada jodohnya juga kali ya. Lagian biaya pesta nikahnya kan mahal sekarang,” keluhnya.

Setali tiga uang dengan Lilis dan Novia, Nanda Kirana juga menunda keinginannya untuk menikah. Alasan ekonomi, seperti rumah dan gaji yang masih kecil membuatnya harus menahan diri untuk menikah.

’’Saya pilih berkarir dulu deh. Jodoh kan takdir yang Kuasa. Lagian usia saya juga masih muda,’’ cetus pemuda berusia 22 tahun anggota Polri yang bertugas Polres Metro Bekasi Kabupaten ini.

Baca juga: Perjalanan KRL dari Bekasi Sudah Normal, Ini Dugaan Penyebab Stasiun Kalender Kebakaran

Sementara itu, Pemkab Bekasi untuk saat ini belum ada rencana untuk mengeluarkan kartu anggota jomblo.

Kepala Dinas Potensi Pengembangan Keluarga Berencana Ncep S. Jaya menuturkan pihaknya belum berencana melaksanakan program penanganan jomblo. Menurut dia masalah jodoh menjadi takdir Tuhan.

Namun demikian, pihaknya melakukan pembinaan serta konseling kepada calon pasangan baru yang bakal menikah. Selain itu instansinya juga bekerjasama dengan Dinas Pendidikan untuk mensosialisasikan kepada pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).

”Kalau program jomblo gak ada, tapi sosialisasi pentingnya berumah tangga kita sosialisasikan kepada masyarakat melalui kecamatan, kelurahan, dan sekolah tingkat SMA,” kata Ncep saat ditemui di pelataran halaman gedung Bupati Bekasi, kemarin (17/5/2017).

Menurutnya, adanya sosialisasi pembinaan tentang pernikahan demi keharmonisan saat membina rumah tangga.

”Khususnya kita lakukan untuk menghindari adanya pergaulan bebas. Karena pergaulan bebas itu juga menjadi faktor orang malas menikah. Oleh sebab itu penting kita lakukan sosialisasi tersebut,” terangnya. (dho/pj/gob)



loading...

Feeds

GAMKI Tak Mau Terjebak Politik Praktis

GAMKI Tak Mau Terjebak Politik Praktis

DEWAN Pimpinan Pusat GAMKI Bidang Organisasi dan Kelembagaan, Dickson Siringo Ringo, menegaskan jika organisasinya tidak akan mendukung salah satu partai …
Warga melewati banjir setinggi 70 sentimeter, Selasa (21/11/2017). (Foto: Raiza/Radar Bekasi)

Air Banjir di Ciketing Udik Menghitam

SEPEKAN sudah banjir melanda warga di pemukiman Perumahan Pendidikan dan Kebudayaan (P&K), Ciketingudik, Kota Bekasi. Bukannya surut. Air di komplek …