Wah… Puskesmas Pungut Biaya Proses Persalinan Warga Tidak Mampu Asal Sukatani Ini

Rani Damayanti menggendong anaknya yang baru dilahirkan pada April 2017 kemarin.

Rani Damayanti menggendong anaknya yang baru dilahirkan pada April 2017 kemarin.

SEORANG ibu bernama Rani Damayanti harus berjuang keras agar bisa selamat melahirkan. Bukan hanya nyawa taruhannya, tapi juga seluruh materi yang ia miliki.

Usia kandungan Rani sudah sembilan bulan. Pada April 2017 kemarin, ia pun melahirkan seorang anak laki-laki dengan selamat. Namun di balik persalinannya itu ada kisah yang menyedihkan.

Ketika Rani mulai merasakan mulas, ia bergegas ke puskesmas setempat ditemani ibunya. Sementara suaminya, sudah tidak ada kabar sejak beberapa bulan lalu dan tidak tahu kalau istrinya akan melahirkan.

Bermodalkan KTP ia mendaftar ke puskesmas. Sebagai warga miskin, ia berharap proses persalinannya gratis alias tidak dipungut biaya.

Namun ternyata api jauh dari panggang. Pihak puskesmas tetap minta biaya persalinan sebesar Rp600 ribu. Karena saat itu Rani akan melahirkan, ia pun terpaksa menyanggupi permintaan puskesmas soal biaya persalinan.

Baca juga: Angkot Dilengkapi AC Bakal Meluncur di Kota Bekasi

Yang ada di pikiran benaknya saat itu ialah anaknya dan ia selamat setelah persalinan. Sedangkan untuk membayar biaya persalinan akan diusahakan setelahnya.

“Saya tidak punya uang, jadi harus bayar Rp600 ribu,” katanya, beberapa waktu lalu.

“Saya tidak paham, maklum saja orang tidak punya,” tambahnya.

Selain diharuskan membayar, Rani juga tidak diberi obat dan hanya vitamin. Pihak puskesmas menyarankan perempuan berusia 32 tahun itu membeli obat di warung.

“Kata dokternya karena saya normal jadi hanya diberikan vitamin,” ucapnya.

Setelah proses persalinan berjalan lancar dan selamat, Rani mulai pusing untuk membayar biaya persalinan. Karena ia belum bisa berjalan setelah melahirkan, terpaksa orangtuanya yang sudah renta keluar puskesmas untuk berutang uang ke tetangga.

“Saya prihatin puskesmas milik pemerintah seperti ini, tapi alhamdulillah saya selamat dan anak kedua saya juga sehat,” ujarnya.

Nurjaya, pengurus Karang Taruna Desa Sukamulya yang mendengar penderitaan Rani langsung bertindak dengan mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

“Memang ini karena ketidakpahaman warga, namun seharusnya petugas kesehatan harus mengarahkan. Setidaknya jangan sampai seperti ini, karena dia (Rani) tetangga saya memang warga tidak punya,” ujarnya.

Tindaklanjut pun membuahkan hasil. Pihak Kecamatan Sukatani menghubungi puskesmas dan diminta agar mengembalikan uang yang dibayarkan oleh Rani.

“Saya harap sosialisasi masalah kesehatan harus sampai hingga pelosok, jadi warga bisa mengetahui, dan hal ini tidak terulang lagi,” katanya.

(and/pj/gob)



loading...

Feeds

(Ilustrasi) Truk sampah milik DKI Jakarta yang rusak dilempar batu. (Foto: Ist)

Lagi, Truk Sampah DKI Dihujani Batu

UNTUK kesekian kalinya, truk sampah DKI Jakarta kembali diserang kelompok misterius di Jalan Raya Narogong. Namun pelemparan kaca truk sampah …