Polisi Duga Pelemparan Batu di Gereja Kristen Pasundan Dilatarbelakangi Masalah Internal

Pecahana kaca jendela menjadi salah satu bukti pelemparan batu oleh orang tak dikenal di Gereja Kristen Pasundan.  Foto: kub/GoBekasi

Pecahana kaca jendela menjadi salah satu bukti pelemparan batu oleh orang tak dikenal di Gereja Kristen Pasundan. Foto: kub/GoBekasi

POLISI menduga pemicu peristiwa pelemparan batu bata jendela Gereja Kristen Pasundan akibat permasalah internal gereja. Sebab, pada tanggal 1 Mei 2017 lalu ada selisih paham berkaitan dengan tanah.

Kepala Subbagian Humas Polres Metropolitan Bekasi Kota, Komisaris Erna Ruswing mengungkapkan, pihaknya menerima keterangan dari pihak Gereja Kristen Pasundan. Pendeta Gereja Kristen Pasundan, Debi Wardianti, lanjutnya  mengaku sedang melakukan pemasangan plang di lokasi pemakaman tidak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP).

“Laporan yang kami terima dari Pendeta GKP (Gereja Kristen Pasundan), Debi Wardianti ada lebih kurang 11 orang pihaknya yang melakukan pemasangan plang di tanah pemakaman,” ungkapnya, Selasa (9/5/2017) kepada GoBekasi.co.id.

Kala itu, lanjut Erna, waktu menunjuk pukul 10:00 WIB pagi. Pemasangan plang di tanah Pemakaman Bitung dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Gereja atas nama Joko Martono. Isi tulisan pada plang itu ialah ‘Tanah Pemakaman Kristen Bitung Dikelola Oleh GKP Jemaat Jatiranggon’.

Kendati demikian, upaya memasang plang di lokasi tanah pemakaman itu gagal, lantaran datang dua orang yang mengaku sebagai ahli waris atas tanah tersebut. Mereka yakni, Supriatna Lukas dan Yumina Sabajan.

“Mereka datang marah-marah terhadap jemaat yang memasang plang di lokasi, dan sore harinya plang tersebut dibongkar dan diambil oleh orang yang tidak dikenal,” terang dia.

Menurut Erna, tanah yang berada di Gang Bitung, Jalan Kampung Sawah, RT 03 RW 03 Kelurahan Jatiranggon, Kecamatan Jatisampurna, dengan luas 4500 meter kubik itu sudah diserahterimakan pada tahun 1990.

Saat itu, pendeta atas nama Dengapon menyerahkan wakaf tanah yang digunakan untuk pemakaman kepada pihak gereja.  Kemudian, untuk pengelolalaannya diserahkan kepada ahli waris, yaitu keluarga Noron dan keluarga Sabasan.

“Namun saat ini pengelolaan makam tersebut sudah diserahkan kepada pihak gereja, karena memiliki badan hukum. Dengan hal tersebut dua keluarga tidak terima sampai sekarang,” papar dia.

Padahal, untuk tanah itu pihak gereja juga sudah mengenakan uang iuran setiap bulannya dengan rincian uang pemakaman sebesar Rp10 ribu, dan uang kebersihan Rp5 ribu.

Erna juga membeberkan, dalam kasus ini yang mengaku sebagai ahli waris tidak hanya Supriatna Lukas dan Yumina Sabadjan saja. Ada satu lagi yakni Sukanta Noron. Mereka mengaku ahli waris dengan mengatasnamakan Yayasan Bitalita.

“Mereka semua merupakan Jemaat GKP Jatiranggon, dan ketiga nama tersebut memang yang paling vokal menentang pembuatan pemakaman itu,” kata dia.

Meski demikian, Erna tidak mau gegabah untuk menunjuk ketiga nama tersebut sebagai terduga pelaku yang menghujani enam jendela milik Gereja Kristen Pasundan. Sebab, saat peristiwa terjadi tidak ada saksi mata yang melihat pengrusakan itu. Bahkan, hal ini juga menjadi alasan polisi sulit mngidentifikasi pelaku.

“Kita tidak berandai-andai, namun memang yang menyulitkan selain tidak ada saksi mata. Di gereja juta tidak terdapat CCTV sebagai salah satu alat identifikasi pelaku,” ujar dia.

Saat ini, barang bukti yang dapat digunakan petugas untuk mengidentifikasi pelaku yang menghujani jendela Gereja Kristen Pasundan hanyalah berbentuk belahan batu bata, dan pecahan kaca jendela. (kub/gob)



loading...

Feeds

Pentas seni di SMAN 12 Bekasi, Minggu (17/12/2017). (Foto: Ist)

Pensi SMAN 12 Bekasi Meriah

SMP Negeri 12 Kota Bekasi menyuguhkan kegiatan Fun Walk dan Pensi, kegiatan bertemakan asah-kreativitas ini merupakan bentuk apresiasi pihak sekolah …
Ilustrasi suspect difteri. (Foto: Ist)

Penderita Difteri di Kota Bekasi Bertambah

PENDERITA Difteri di Kota Bekasi bertambah. Sedikitnya 5 orang dinyatakan positif suspect penyakit mematikan itu. Kelimanya berada di sejumlah rumah …