Oknum Organda Masih Tarik Pungli ke Supir Angkot

(Ilustrasi) Pengendara mengeluhkan banyak angkot yang 'ngetem' dan memakan ruas jalan, Selasa (9/2/2016). FOTO: Ivan Pramana Putra/GoBekasi

(Ilustrasi) Pengendara mengeluhkan banyak angkot yang 'ngetem' dan memakan ruas jalan, Selasa (9/2/2016). FOTO: Ivan Pramana Putra/GoBekasi

PUNGUTAN  liar (pungli) yang dilakukan oleh oknum berseragam Organisasi Angkutan Darat (Organda) disejumlah ruas jalan di Kota Bekasi masih terus terjadi.

Seperti dijalan Raya Jatiasih, Jalan Perjuangan, Bekasi Utara dan Jalan Ir.H Juanda Terminal Bekasi. Serta beberapa lokasi lainnya di Kota Bekasi.

 Meski Organda mengklaim sudah melakukan penertiban pungutan liar terhadap angkutan barang melalui surat resmi, namun, dari hasil pantauan dilapangan, pungli tersebut masih terjadi.

Hingga kini, para oknum anggota Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) seolah tidak menggubris aturan larangan pungli. Bahkan, stake holder terkait seolah tutup mata dengan adanya Pungli tersebut.

Informasi yang dihimpun Radar Bekasi, pungli dilakukan dengan pengenaan tarif bervariasi, di antara Rp 2 ribu sampai dengan Rp 5 ribu. Tarif Rp 2 ribu untuk angkutan barang mobil kecil, sementara Rp 5 ribu untuk kendaraan angkutan barang yang lebih besar.

Tarif tersebut tercatat di dalam karcis tertulis iuran, pembinaan anggota Organda ditanda tangani oleh Ketua Organda Hotman Pane. Di dalam stempel tertulis biaya untuk kerapihan dan pemeliharaan jalan.

Para sopir di jalan mengatakan merasa aman dikarenakan sudah berkordinasi kepada pihak aparat terkait. Terlebih oknum dari organda disebut kerap memakai baju dishub warna abu-abu dan memakai atribut dishub dan atribut Pemda.

“Mereka seolah-olah sebagai pegawai dishub, sehingga para sopir dengan terpaksa membayar karcis yang disodorkan oleh organda tersebut,” ungkap salah seorang sopir, Herman.

 Sementara, masyarakat pengguna jalan umum, Suryadi, merasa heran pungli di jalan itu tidak diberantas. Padahal sudah jelas-jelas sangat merugikan masyarakat pengendara umum dan para sopir angkutan. Dia mempertanyakan sejauh mana aparat terkait menindak pelaku pungli di jalan.

“Dilihat sampai sekarang, mereka tetap melakukan kegiatan pungutan liar, sedangkan ini dinilai identik dengan premanisme, seharusnya pihak kepolisian segera menangkap pungli di jalan. Jangan sampai berkepanjangan, sehingga tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Warga menyayangkan kondisi itu masih terjadi padahal seharunya sudah ditertibkan pihak terkait.

“Padahal, seharusnya mereka ditangkap untuk diproses secara hukum yang berlaku, apalagi sekarangkan ada satgas saber pungli,” imbuhnya. (dat/pj/gob)



loading...

Feeds

Prosesi pemakaman Bripda Taufan di TPU Jatiranggon, Jatisampurna, Kamis (25/5/2017). (Foto: Ist)

Sosok Bripda Taufan Dikenal Ramah

PEMAKAMAN Bripda Taufan Tsunami (23), berjalan dengan hikmat di tempat pemakaman umum (TPU) Pondok Rangon, Kecamatan Jatisampurna, Kamis (25/5/2017) siang ini. …