2 Tahun Jalan Imam Bonjol Tergenang, Masyarakat Kecewa kepada Pemkab Bekasi

(Ilustrasi) Kondisi banjir di Jalan Imam Bonjol, Cikarang Barat. (Foto: Dokumentasi GoBekasi)

(Ilustrasi) Kondisi banjir di Jalan Imam Bonjol, Cikarang Barat. (Foto: Dokumentasi GoBekasi)

SETIAPhari pengguna jalan harus dihadapi dengan genangan air di Jalan Raya Imam Bonjol. Meski hujan sudah jarang turun, namun tetap saja jalan tersebut digenangi air.

Air tidak bisa surut lantaran saluran air di jalan tersebut tersumbat. Bahkan warga sekitar menuding genangan air itu terjadi lantaran adanya perusahaan yang berdiri tepat di pinggir jalan raya, sehingga menyebabkan air tidak bisa meresap.

“Sudah sejak tahun 2013 kita ajukan penolakan, karena lokasi perusahaan itu sebenarnya wilayah resapan. Sebab sebelum adanya gedung perusahaan jalan dan sebagian permukiman warga tidak terkena dampak banjir, tapi sekarang sudah menjadi derita masyarakat sekitar,” ujar Anggota Badan Penanggulangan Desa Telagaasih, Sudirman.

Lelaki yang biasa disapa Alan ini menuturkan, genangan di jalan tersebut tidak hanya merugikan pengguna jalan tapi juga warga yang memiliki usaha tepat di pinggir jalan. Karena jalan yang digenangi air menyebabkan usaha warga mati.

“Ada beberapa warga yang kontrakannya terendam, dan bagi tukang ojek pangkalan juga terganggu,” katanya.

Sebagai warga yang tinggal di Cikarang Barat, pihaknya sudah mengajukan protes ke pemerintah daerah. Warga dari Desa Sukadanau dan Telagaasih kompak melayangkan protes terkait pembangunan perusahaan, sekaligus meminta penanggulangannya.

“Kita tidak alergi dengan pembangunan, apalagi dalihnya pembangunan perusahaan yang bergerak di bidang produksi baja ini merupakan untuk memenuhi besi baja di tingkat nasional. Tapi jangan sampai mengorbankan warga sekitar,” ujarnya.

Warga sudah beberapa kali bertemu dengan pemerintah daerah untuk beraudiensi mencari solusi. Namun hingga kini, belum juga ada langkah dari pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut. Air tetap menggenangi Jalan Raya Imam Bonjol.

“Dampaknya selain kenyamanan serta perekonomian warga sekitar. Jalan juga cepat rusak, sebab tergenang air dan dilintasi truk-truk besar juga, karena genangan air itu tadi,” jelasnya.

Menurut Ali, masyarakat kecewa dengan pemerintah daerah karena dianggap kurang memperhatikan warganya. Bahkan kata dia, kepala daerah tidak memperdulikan aspirasi masyarakat.

Seharusnya, kata dia, kepala daerah bisa mencari solusi yang tidak merugikan. Sayangnya, hingga kini jalan tersebut masih tergenang air dan seolah kepala daerah menutup mata.

“Kita sebenarnya kecewa dengan pemda yang kurang memperhatikan masyarakat melalui infrastruktur. Paling gak pemerintah daerah bisa memperdulikan warga dari hasil pembangunan gedung tersebut. Namun apa perjuangan serta aspirasi warga tidak didengar, jadi dampaknya sudah dua tahun lebih ini genangan tanpa ada perhatian,” ungkapnya.

(and/pj/gob)



loading...

Feeds

(Ilustrasi) Kondisi arus balik di Tol Jakarta-Cikampek pada Sabtu (9/7/2016) malam. (Foto: Rezza Rizaldi/GoBekasi)

Prediksi Puncak Arus Balik: 30 Juni

JASA Marga memprediksi puncak arus balik Lebaran akan terjadi pada Jumat (30/6) dengan volume lalu lintas mencapai 110 ribu kendaraan. …