Pengadilan Negeri Bekasi Baru Vonis 5 Terdakwa Kasus Vaksin Palsu

Kedua terdakwa pembuat vaksin palsu usai menjalani sidang, Jumat (11/11/2016). FOTO: Ivan Pramana Putra/GoBekasi

Kedua terdakwa pembuat vaksin palsu usai menjalani sidang, Jumat (11/11/2016). FOTO: Ivan Pramana Putra/GoBekasi

DARI 19 orang terdakwa kasus vaksin palsu di Kota Bekasi, baru lima yang sudah divonis oleh Pengadilan Negeri (PN) Bekasi. Hukuman untuk lima terdakwa itu bervariasi, mulai dari tujuh sampai sepuluh tahun penjara.

Lima orang terdakwa itu adalah pasangan suami-istri, Iin Sulastri dan Syafrizal, Irnawati, Seno bin Senen dan Muhammad Farid. Kelimanya dinyatakan bersalah karena telah membantu mengedarkan vaksin palsu ke masyarakat.

 Kepala Hubungan Masyarakat Pengadilan Negeri Bekasi, Suwarsa mengatakan, vonis untuk terdakwa lainnya juga akan segera dilakukan.

“Memang baru lima orang yang sudah divonis oleh pengadilan, sisanya baru diputuskan pada Senin (20/3/2017) mendatang,” janji Suwarsa di PN Bekasi, Jumat (17/3/2017).

Ia menjelaskan, ada empat terdakwa yang dijatuhi hukuman lebih ringan oleh PN Bekasi yang dipimpin Majelis Hakim, Kurnia Yani Darmonk, dengan anggota Hera Kartiningsing dan Tri Yuliani.

Terdakwa Muhammad Farid dijatuhi hukuman delapan tahun penjara. Dalam kasus itu, terdakwa diketahui merupakan salah satu pemilik apotek. Sementara, terdakwa Seno bin Senen, berperan sebagai pembuat label vaksin palsu dihukum delapan tahun penjara. Masing-masing dikenakan denda Rp1 miliar dengan subsider satu bulan penjara.

Dua terdakwa lainnya, Iin Sulastri dijatuhi hukuman delapan tahun penjara, sedangkan Syafrizal sepuluh tahun penjara. Keduanya terbukti bersalah sebagai pengedar dan ikut membantu membuat vaksin palsu.

Dalam vonis yang diberikan, terdakwa Iin mendapat hukuman lebih ringan daripada suaminya, Syafrizal, karena melihat kondisinya yang baru saja melahirkan.

Sementara itu, tersangka lainnya, Irnawati telah dijatuhi hukuman oleh Ketua Majelis Hakim, Marper Pandiangan yang beranggotakan Oloan Silalahi, dan Bahuri pada Senin (13/3/2017) lalu.

Terdakwa dinyatakan bersalah karena ikut mengedarkan serta menjual vaksin palsu. Majelis Hakim lalu menghukum terdakwa tujuh tahun penjara dan denda Rp1 miliar serta subsider satu bulan penjara.

Untuk diketahui, dari 19 orang terdakwa, hanya Rita dan Hidayat yang mengajukan pleidoi atau nota pembelaan. Terdakwa membacakan pleidoi pada Senin, 13 Maret lalu, meminta dibebaskan dari hukuman penjara.

Pasangan suami istri itu meminta supaya didakwakan dengan Pasal 198 UU Kesehatan yang sangsi berupa denda. Alasannya, mereka memproduksi vaksin dengan skala kecil, bukan skala besar.

Selain itu, perbuatan mereka didorong oleh tuntutan ekonomi rumah tangga. Atas dasar itu, mereka meminta agar Majelis Hakim mengabaikan dakwaan Pasal 196 dan 197 UU Kesehatan yang sanksinya hukuman penjara di atas 10 tahun.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Bekasi dari PN Bekasi, seluruh terdakwa yang mengikuti persidangan dalam kasus vaksin palsu antara lain Hidayat Taufiqurahman, Rita Agustina, Kartawinata alias Ryan, H. Syafrizal dan Iin Sulastri, Nuraini, Sugiyati alias Ugik, Nina Farida, Suparji Ir, Agus Priayanto, M. Syahrul Munir, Seno, Manogu Elly Novita, Sutarman bin Purwanto, Thamrin alias Erwin, Mirza, Sutanto bin Muh Akena, Irnawati, dan Muhamad Farid.

Dalam kasus itu, Rita dan Hidayat Taufiqurahman berperan sebagai produsen vaksin palsu. Mereka membuat vaksin palsu dikediamannya yang terletak di Perumahan Kemang Pratama Regency, Kecamatan Rawalumbu.

Vaksin palsu yang dibuat kemudian diedarkan ke beberapa apotek yang ada di Bekasi dan Jakarta. Pada persidangan diketahui, bahwa Rita dan Hidayat sudah enam tahun memproduksi vaksin palsu sejak tahun 2010.

Keuntungannya pun tidak sedikit, dari hasil kejahatan itu, mereka memperoleh keuntungan sekitar Rp30 juta sampai Rp40 juta setiap bulannya.

Ada lima jenis vaksin palsu yang diproduksi, yaitu pediacel, tripacel, engerix B, havrix 720, dan tuberculin namun kelimanya memiliki kandungan yang sama.

Metode pengemasannya vaksin palsu itu diketahui dengan cara menggunakan botol bekas yang dicuci menggunakan alkohol dan ditunggu sampai kering.

Setelah itu, mereka mencampurkan cairan vaksin DT/TT dengan cairan aquades dengan masing-masing takaran sebanyak lima mililiter. Kemudian vaksin ditutup menggunakan alat pres dan dimasukan ke dalam kemasan masing-masing vaksin yang telah disiapkan. Untuk bahan bakunya adalah vaksin DT/TT, antibiotik gentacimin.

(neo/rbs/gob)

 



loading...

Feeds

Rekom Sutriyono Masih Bisa Dievaluasi

Rekom Sutriyono Masih Bisa Dievaluasi

REKOMENDASI Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS) terhadap anggota Komisi IV DPR RI, Sutriyono masih dapat dievaluasi. Demikian …