Jembatan Senilai Rp5,6 Miliar di Muaragembong Ini Amblas, Padahal Baru Dibangun

Jembatan Kampung Bagedor, Desa Pantaiharapan Jaya, Muaragembong, Minggu (13/3/2017). Jembatan mengalami amblas pada kedua sisinya. (Foto: Raiza Septianto/Radar Bekasi)

Jembatan Kampung Bagedor, Desa Pantaiharapan Jaya, Muaragembong, Minggu (13/3/2017). Jembatan mengalami amblas pada kedua sisinya. (Foto: Raiza Septianto/Radar Bekasi)

JEMBATAN di Kampung Bagedor, RT01/01, Dusun IV, Desa Pantai Harapanjaya, Muaragembong disoal oleh warga. Pasalnya jembatan yang menelan anggaran Rp5,6 miliar dari APBD 2016 lalu itu kondisinya tidak sesuai yang diharapkan masyarakat.

Rozak (70), warga setempat mengatakan jembatan dengan lebar 10 meter dan panjang 40,8 meter itu mengalami kemiringan dan amblas di ujung kanan dan kiri jembatan.

“Jembatan ini memang usulan masyarakat tapi tidak sesuai dengan harapan kita, belum selesai semua aja sudah ada yang miring ini belum dipakai, kita justru malah khawatir,” kata Rozak ditemui di lokasi, Minggu (12/3/2017).

Jembatan itu dibangun pada Juni 2016 dan selesai pada November 2016. Jembatan yang melintang di atas Kali Ciherang itu dikeluhkan masyarakat yang melalui jembatan karena jaraknya yang dekat dengan air kali. Jika kali meluap, dikhawatirkan jembatan tersebut akan terendam dan nelayan sulit melintas.

“Sekarang aja kalinya lagi surut, kalau banjir tidak bisa dilalui, bisa mentok jembatan, seharusnya jembatan ini dibuat tinggi dan ini yang tidak diharapkan banyak masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dusun IV, Desa Pantai Harapanjaya, Acip, mengatakan banyak masyarakat yang kurang puas dengan pembangunan jembatan itu. Karena sebelum digunakan kondisi jembatan sudah amblas, begitu juga dengan tinggi jembatan yang dianggap terlalu pendek.

“Seharusnya lebih tinggi kalau sekarang seperti dipaksakan pengerjaannya,” katanya.

Acip merasa aneh dengan pembangunan jambatan yang lebih didahulukan. Padahal jembatan tersebut dibangun untuk memudahkan warga mencapai Kecamatan Muaragembong. Namun akses jalan tersebut belum dibuat hingga kini.

“Kan di sini belum ada tembusan jalan, tapi kenapa jembatannya yang dibangun duluan, seharusnya jalan dulu dilaksanakan baru jembatan, yang kita pinta juga bukan seperti yang sekarang,” ungkapnya.

Kata Acip, masyarakat pernah meminta DED dan RAB jembatan kepada pelaksanan supaya mengetahui seperti apa bentuk jembatan yang akan dibuat. Namun permintaan itu tidak pernah diberitahukan. Padahal masyarakat ingin agar jembatan dibangun lebih tinggi.

“Sekarang kan udah dikerjakan seperti ini, kalau kayak sekarang ini justru malah terbengkalai, malah menggangu para nelayan, mungkin ada kepentingan bisnis ke depan dibuat jembatan ini,” katanya. (dho/rbs/gob)

 

 



loading...

Feeds