Garda Santri Kota Bekasi Gelar Lomba Baca Kitab Kuning

Konferensi pers PKB dan Garda Santri soal lomba pembacaan kitab kuning, Minggu (12/3/2017). (Foto: Yurizkha Aditya/GoBekasi)

Konferensi pers PKB dan Garda Santri soal lomba pembacaan kitab kuning, Minggu (12/3/2017). (Foto: Yurizkha Aditya/GoBekasi)

GARADA Santri (GS) menggelar lomba membaca kitab kuning atau Musabaqoh Kitab Kuning (MKK) tahun 2017. Para peserta berasal dari santri pondok pesantren (Ponpes) di seluruh Indonesia. Berbeda dari tahun sebelumnya, MKK kali ini tidak hanya memperlombakan satu kitab saja yaitu Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali, tetapi 4 kitab berbeda, yakni Fath al-Qarib, Nadham al-Imrithi, Ihya Ulumiddin, dan Alfiyah Ibn Malik. Dengan total hadiah sebesar Rp500 juta. Hal ini seperti disampaikan Ketua DPC PKB kota Bekasi Ahmad Ustuchri.
“Pendaftaran dimulai tanggal 1 sampai dengan 20 Maret 2017. 2 Pemenang Utama dari lomba ini akan dihadiahi Umroh plus Biaya Pendidikan. Pendaftaran dibuka di Seluruh DPC PKB atau DKC Garda Bangsa Se-Jawa Barat,” kata Ustuchri, Minggu (12/3/2013)
Kata dia, Persyaratan peserta terbagi dua, yakni, pemula (Ula) Usia 15-20 tahun. Kitab yang dilombakan, Quroatul Kutub Fathul Qorib, Hifdhun Nadhom, Nadhom Imrithi. Kedua, kategori mahasiswa (Ulya) Usia 21-25 tahun, kitab yang dilombakan, Qiroatul Kutub Ihya Ulumuddin Hifdun Nadhom Alfiah Ibnu Malik
MKK dimulai dengan Tahap penyisihan pada 11 Maret-16 April yang dilakukan di masing-masing kabupaten/ kota se-Indonesia. Babak semi final pada 17 April- 25 April di masing-masing provinsi. Kemudian pelaksanaan final dan grand final dilaksanakan pada tanggal 29 april – 1 Mei di Jakarta.
Kata koordinator GS, Anas Nasikhin, MKK 2017 merupakan wujud konsistensi Garda Bangsa sebagai organisasi pokok yang memayungi Garda Santri dan PKB untuk mempertahankan dan mengembangkan tradisi keilmuan pesantren yang selama ini mewarnai kehidupan muslim di Indonesia.
Di tempat yang sama, anggota Dewan Syuro DPP PKB yang juga Anggota DPR RI, KH Kholilurrahman mengatakan, kitab kuning yang diajarkan di pondok pesantren dengan perspektif ulama semakin memperkaya khazanah keagamaan masyarakat Indonesia. Dengan mempelajari kitab kuning, masyarakat pesantren dan kaum Nahdliyin pada umumnya menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan pendapat,
“Bahkan, dengan mempelajari kitab kuning kita tidak akan mudah menuduh orang lain salah dan menuduh pihak lainnya benar,” tutupnya. (Cr28/gob)


loading...

Feeds

ilustrasi

Waspada Wabah ‘Gay’ di Kota Bekasi

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi, meminta kepada masyarakat mewaspadai praktik pasangan sesama jenis. Hal ini menyusul terbongkarnya pesta seks kaum …
18557015_1055302654602681_3680223136746160374_n

Polisi Kurang Galak, Geng Motor Marak

KETUA Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menduga maraknya aksi anarkistis geng motor tak terlepas dari sikap kompromis masyarakat …