Survei UNESCO: Minat Baca Masyarakat Indonesia 0,001 Persen

(Ilustrasi) Seorang pelajar membaca buku di perpustakaan sekolah, pada kegiatan ekstra kurikuler. Penerapan kurikulum 2013 oleh Kemendikbud, dinilai terlalu dipaksakan. Pasalnya, hingga dimulainya tahun ajaran baru, buku kurikulum 2013 yang telah tersalurkan baru sekitar 70 persen.

Siswa sedang membaca di perpustakaan. Metro Siantar/Grup JPNN.com

(Ilustrasi) Seorang pelajar membaca buku di perpustakaan sekolah, pada kegiatan ekstra kurikuler. Penerapan kurikulum 2013 oleh Kemendikbud, dinilai terlalu dipaksakan. Pasalnya, hingga dimulainya tahun ajaran baru, buku kurikulum 2013 yang telah tersalurkan baru sekitar 70 persen. Siswa sedang membaca di perpustakaan. Metro Siantar/Grup JPNN.com

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus menggenjot minat baca masyarakat khususnya peserta didik. Berdasarkan survei UNESCO minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya, dalam seribu masyarakat hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat baca.

Kepala Biro Komunikasi Layanan Masyarakat (BKLM) Kemendikbud Asianto Sinambela menegaskan, minat baca literasi masyarakat Indonesia masih sangat tertinggal dari negara lain. Dari 61 negara, Indonesia menempati peringkat 60.

Hal tersebut, menurut Asianto menunjukkan kemampuan baca masyarakat Indonesia masih setara dengan negara Afrika Selatan. “Nilai literasi membaca kita masih sangat rendah. Kita akui, nilai riset Program for Internasional Student Assesment (PISA) rata-rata 493, sementara nilai literasi Indonesia hanya 396,” ujarnya seperti dikutip dari Indopos (Jawa Pos Group) di Jogjakarta, kemarin.

Situasi itu tentu saja menjadi catatan penting dalam dunia pendidikan di tanah air. Bagaimana caranya bisa meningkatkan kemampuan literasi, salah satunya dengan meningkatkan budi pekerti.

Salah satu terobosan yang dilakukan pemerintah adalah dengan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti. “Permendikbud itu diwujudkan dengan wajib membaca 15 menit sebelum waktu pembelajaran dimulai, khususnya bagi siswa SD, SMP atau SMA,” bebernya.

Sementara itu, Kasubdit Keaksaraan dan Budaya Baca Kemendikbud Samto menyebutkan, penilaian literasi terdiri dari atas tiga komponen, yakni literasi dasar, kompetensi dan kualitas karakter. Menurutnya, nilai literasi dasar Indonesia masih sangat rendah.

Itu meliputi baca tulis, berhitung, literasi sains, literasi informasi teknologi dan komunikasi, literasi keuangan dan literasi budaya. “Itu dapat ditumbuhkembangkan melalui Gerakan Indonesa Membaca (GIM) yang telah menyasar 31 kabupaten, 31 provinsi,” ujarnya.

Selain itu, dikatakan Samto tumbuh kembang baca dapat diwujudkan melalui program kampung literasi. Yaitu satu program dengan konsep menjadikan kampung tidak hanya menjadi hanya tumbuhkembangkan minat baca saja.

Data BPS 2006 menunjukkan tingkat minat baca masyarakat usia diatas 15 th menunjukkan 55 persen masyarakat lebih tertarik membaca koran, 29 persen membaca majalah, 16 persen membaca buku cerita, 44 persen membaca buku pelajaran sekolah. Sementara jumlah masyarakat usia 15 hingga 59 tahun yang buta aksara sebanyak 5,9 juta atau 3,70 persen dari 81 juta orang.

Target kampung literasi, masih ujar Samto hingga 2019 mendatang adalah 514. Saat ini sendiri, menurutnya baru terbentuk 31 kampung literasi di 31 kabupaten. Ditambahkan Samto, sedikitnya pemerintah mengalokasikan anggaran hingga Rp.160 juta untuk membentuk satu buah kampung literasi. (nas/ray/jpnndam/gob)



loading...

Feeds